//
you're reading...
Motivasi, Opinian, Perubahan

Saudagar : Pedagang dengan Seribu Akal ?

Jusman Syafii Djamal
17 April 2015

Tadi malam saya menghadiri undangan Bang Fahmi Idris yang meluncurkan dua buku menarik. Pertama Konflik : Interpretasi Konstitusi dibalik berbagai peristiwa politik di Era Awal Reformasi dan Kedua Saudagar dalam lintasan sejarah politik Indonesia. Dua buku menarik karya Bang Fahmi ini adalah cukilan dari pengalaman belia baik sebagai Pengusaha maupun sebagai Politisi. Bang Fahmi memang figur menarik diusia nya yang tidak lagi muda ia terus berkarya. Lepas dari kegiatan politik beliau kini jadi pengajar di Universitas Negeri Jakarta dimana gelar Doktor diraihnya disana. Mahasiswanya juga banyak yang hadir dalam acara itu. Pengabdian tak kenal henti.

Dalam sambutannya WaPres JK mengomentari buku kedua berjudul Saudagar dalam lintasan sejarah politik. Dengan cerdik beliau mendefisikan kata Saudagar dengan istilah Pedagang dengan Seribu akal. Ia ingin mengatakan kalau ada pedagang yang kehilangan akal pastilah tak bisa masuk kategori saudagar. Apalagi kalau pedagang menjual barang dengan harga tak masuk akal juga bukan kategori Saudagar. Sementara di Indonesia kelihatannya yang baru tumbuh subur adalah pedagang dengan satu akal, meniru mereka yang berhasil. Jika ada satu pedagang buah laku, pastilah besoknya diseluruh jalan semua orang berdagang buah sampai semua bangkrut karena pasokan lebih banyak dari permintaan. Pasar rusak karena supply melebihi demand. Tak heran di pasar yang banyak ditemui adalah pedagang musiman. Hari ini dagang martabak, semua martabak. Besok duku palembang semua duku palembang. Ini jelas tidak disebut saudagar melainkan pedagang kelililng atau pedagang kelontong. Barang yang dijual sesuai musimnya. Tak ada “core competency”. Tak ada keahlian inti atau produk into yang jadi fokus.

Dalam definisi Saudagar yang dibedikan oleh pak JK, istilah seribu akal menunjukkan cara atau taktik menembus pasar menemukan celah keuntungan, disegala situasi dibanyak masalah. Akal diperlukan ketika zaman lagi susah dan solusi biasa tak lagi manjur. Diperlukan “fikiran diluar kebiasaan” atau out of the box. Inovasi. Dengan kata lain pak JK ingin menjelaskan kata Sudagar itu erat hubuingannya dengan Inovasi. Menemukan jalan baru ketika pasar sedang mengalami kejenuhan. Ketika awan resesi atau depresi ekonomi sedang menggelantung di cakrawala. Banyak hal menarik yang terjadi dalam dialog tadi malam, sayang waktu saya terbatas untuk menuliskannya. Dilain waktu akan diteruskan. Pesan saya bacalah buku bang Fahmi berjudul Saudagar Dalam lintasan Sejarah Politik Indonesia. Disana kita akan temui kisah Haji Samanhudi HOS Tjokroaminoto pendiri Serikat Dagang Isalam Dan juga kisa menarik lainnya hingga masa kini.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: