//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Pendidikan dan Fitrah Ayah Bunda

Adriano Rusfi
21 April 2015

Wow… jika kita simak dalam-dalam pesan-pesan parenting masa kini, betapa kita telah dituntut menjadi super-parent. Betapa kita tak boleh memarahi anak, mengeluarkan kata-kata negatif, pantang memukul, harus super sabar, menuruti maunya “sang raja” dan seterusnya.

Ya, kita sedang berhadapan dengan asset masa depan super penting dan teramat berharga. Kita sedang berhadapan dengan anak-anak yang lemah, rentan, rapuh dan begitu mudah pecah. Maka, mendidiknya adalah seperti membawa gelas kristal di atas nampan kain. Ia tak boleh pecah, dan isinya tak boleh tumpah. Dan kita sang pelayan yang harus berkorban dengan harga berapapun.

Tapi, bukankah ayahbunda adalah manusia biasa yang bisa letih, risau, marah, jengkel dan naik pitam ? Bukankah para ayahbunda adalah eksistensi yang di dalam dirinya juga mengalir fitrah-fitrah kemanusiaan yang wajar. Dan bukankah anak-anak kita adalah entitas fitrah yang penuh dengan kekeliruan, kesalahan, kelewat batas, kezaliman dan kebodohan ?

Lalu, ketika fitrah bertemu dengan fitrah, tak bisakah terjadi interaksi yang juga berbasis fitrah : ada cinta, benci, kasih, marah, sayang, sebal, terharu, kecewa, memuji, membentak dan sebagainya ?

Wahai ayahbunda, mari kita dengarkan sebuah kabar gembira bahwa kita semua adalah manusia dan berhak bertingkah selayaknya manusia yang beriman dan terdidik. Sungguh, anak-anak kita akan kita besarkan, didik dan antarkan ke masa depan berbekal kelebihan dan kelemahan kita sebagai manusia. Mereka akan kita hebatkan bersama cinta, marah, sayang, jengkel, kesabaran dan ketidaksabaran kita.

Yang penting, tetap jaga cinta, sayang, tulus dan ikhlas dalam situasi apapun. Tetaplah cinta ketika marah… tetaplah sayang ketika jengkel… tetaplah tulus saat lepas kendali… tetaplah ikhlash saat ketidaksabaran itu muncul… Sungguh keempat hal itu adalah obat bagi kelemahan kita, penawar luka yang telah kita buat, dan pemaaf bagi hati si kecil yang telah kita sakiti.

Sangat manusiawi jika kita kesal, tapi segeralah basuh dengan pelukan. Wajar jika kekasaran tak sadar terluapkan, tapi segeralah hapus dengan usapan sayang. Adalah fitrah jika sesekali umpatan termuntahkan, tapi segeralah tutup dengan maaf. Datangilah sang buah hati di sunyinya malam, lalu bisikkanlah ke bawah sadarnya :

“Maafkan ayah/bunda nak….”

Jangan sampai kita mewariskan anak-anak yang defisit nurani, karena ia selalu benar, karena ia tak pernah disalahkan, karena ia tak pernah dimarahi, karena ia tak pernah dikritik. Defisit nurani adalah cikal-bakal perilaku asosial, bahkan antisosial.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: