//
you're reading...
Lingkungan, Opinian

Membaca Gerakan Mahasiswa : Re-aksi Naif yang Diberkati (Part I)

Adriano Rusfi
March 29, 2015 at 10:27 PM

Di udara dingin Jum’at malam itu saya ingin panas-panasi mahasiswa. Beberapa diantara “pentolannya” sengaja saya undang ke hotel tempat saya menginap. Lalu sengaja saya sodorkan sebuah artikel yang melecehkan mereka : “Jokowi terlalu sakti untuk dikalahklan oleh mahasiswa”.

Mereka membaca dengan serius, sambil menyeruput minuman hangat yang saya sediakan. Dahi mereka berkerenyit, tapi hanya sebentar. Karena setelah itu senyum mulai mengembang di bibir mereka. Entah kenapa, ekspresi tersebut begitu kompak. Seolah ada sebuah tongkat komando yang mengatur senyum dari sembilan bibir muda itu. Lalu seorang diantara mereka angkat bicara :

“Sekilas artikel ini terkesan melecehkan kami, Bang. Tapi menurut saya artikel ini justru ingin memanas-manasi mahasiswa agar kami bergerak. Sayangnya banyak yang keliru, bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan yang mudah terprovokasi”

Diskusi terus berlanjut seru, hingga lewat tengah malam. Dan tampaknya tak banyak yang berubah tentang paradigma pergerakan mahasiswa. Ya, masih seperti dulu : sebuah re-aksi naif !!!

Sebuah re-aksi ? dan naif pula ? Ah, menghina betul…

Tidak ! Sama sekali tidak ! Ini bukan penghinaan, tapi ini justru sebuah apresiasi atas keunggulan gerakan mereka. Gerakan mahasiswa adalah sebuah re-aksi, bukan sebuah aksi yang direkayasa dan direncanakan. Mereka tak pernah mempersiapkan diri untuk bergerak. Mereka tak pernah melatih diri untuk bertindak. Tak ada diskusi dan wacana yang mereka masak hingga matang.

Mereka memang memantau… Mereka memang gelisah… Tapi mereka senantiasa menunggu, entah menunggu apa dan siapa. Semacam menunggu titah supranatural yang merekapun tak mengerti akan datang dari mana dan kapan. Sungguh, gerakan mahasiswa adalah keputusan tak rasional yang dilakukan pemuda-pemuda rasional. Yang jelas, ini adalah sebuah re-aksi, bukan aksi

Naif, karena memang nyaris tanpa motif dan pretensi. Akan selalu banyak pihak yang menawarkan berbagai isyu sebagai motif untuk bergerak. Akan selalu banyak pihak pula yang menawarkan seribu alasan agar mereka tak perlu bergerak. Tapi mereka tak akan terpengaruh pada keduanya. Mereka hampir tak butuh alasan apapun. Gerakan tuna-motif ini seakan membuat mahasiswa menjadi mudah ditunggangi, tapi kenaifan itu justru membuat mereka sulit ditunggangi siapapun.

Jadi, jangan ditanyakan grand design dari pergerakan mereka. Jangan pula ditanyakan apa yang akan mereka wujudkan setelah gerakan mereka menggapai hasilnya. Mereka dengan tulus berangkat dari kehampaan, dan dengan tulus pula akan kembali ke kehampaan. Ya, gerakan mahasiswa selalu saja bak superhero bertopeng. Ia datang dari dunia antah-berantah, dan akan kembali ke alam antah berantah ketika penjahat telah berhasil diringkus. Mereka memang digerakkan, tapi bukan ditunggangi.

Di akhir malam itu saya bertanya pada mereka : “Lalu apakah mitra berjaket hijau kalian belum mengajak kalian bergerak ?”

Setelah cukup lama terdiam, seorang diantara mereka menjawab :

“Ada sih Bang. Mereka menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah kepemimpinan Indonesia kita punya presiden yang tak mampu mengendalikan kepolisian, dan ini berbahaya bagi keamanan nasional. Tapi kami belum menemukan “wangsit” untuk bergerak secara masif”.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: