//
you're reading...
Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Review

Kesalahan Sistem Pendidikan Indonesia

Muhammad Husein Ali, @mhuseinali
Penggiat Sosial Media

Selasa, 21 April 2015

Sumber: https://www.selasar.com/budaya/kesalahan-sistem-pendidikan-indonesia

Lagi-lagi kita temui berita seputar kebocoran ujian nasional, seakan-akan hal tersebut adalah pertama kalinya terjadi kebocoran. Dilansir dari Tempo, Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti mengatakan kebocoran terjadi pada pelaksanaan ujian nasional sejak hari pertama hingga ketiga digelar.

Memang ujian nasional tahun ini tidak lagi menjadi syarat kelulusan setelah menteri pendidikan Anies Baswedan menghapus syarat tersebut, namun ujian nasional tetap diadakan sebagai fungsi pemetaan. Selain itu, nilai ujian tahun ini juga akan menjadi pertimbangan seleksi nasional masuk perguruan tinggi (SNMPTN).

“Di abad 21 ini, butuh usaha amat serius untuk menjadi bodoh”

Profesor matematika Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto kerap kali melontarkan kritikan terhadap sistem ujian nasional ini. “Pendidikan gratis bermutu adalah bualan politisi, tetapi belajar bermutu memang gratis”, tulis Iwan Pranoto di Instagramnya disertai sebuah foto dengan quote serupa.

Selain itu, beliau juga kerap kali melontarkan quote-quote satir untuk mengkritisi pendidikan Indonesia, yakni “Di abad 21 ini, butuh usaha amat serius untuk menjadi bodoh” ujarnya di akun Instagram beliau.

Berikut gambar satir lain buatan beliau:

Ternyata, sepak terjang sistem pendidikan telah terjadi sejak zaman dulu. Plato, filsuf terkenal dari Yunani, mendirikan akademi dengan nama Hekademos. Di akademi ini, Plato menerapkan gaya kritik spontan ala Sokrates sebagai sistem nilai, sehingga terciptalah universitas.

Selama berabad-abad akademi Plato berjaya sebagai pusat matematika dan etika, dua bidang yang berlandaskan prinsip-prinsip mutlak. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, Plato merancang tatanan masyarakat.

Dalam tatanan masyarakat tersebut, sekolah menjadi penentu peran setiap orang dalam masyarakat. Rakyat yang tidak cemerlang dalam berolahraga, akan dipaksa menjadi petani yang bercocok tanam demi kesejahteraan bersama.

Rakyat yang sangat menguasai dan hebat dalam berolahraga tapi tak mampu menguasai matematika, akan menjadi tentara. Sedangkan rakyat yang mampu menguasai matematika dan juga hebat dalam berolahraga, akan masuk dalam golongan elit sebagai orang yang dianggap telah ditakdirkan untuk memimpin negara.

Tentu saja tatanan masyarakat tersebut gagal karena menghasilkan pemimpin korup yang membodohi rakyat.

Selain Plato, Ibnu Khaldun juga pernah mengkritisi pendidikan pada zamannya. Dalam buku An Arab Philosophy of History: Selections from the Prolegomena of Ibn Khaldun of Tunis (1332-1406), Ibnu Khaldun meninjau pendidikan dari segi psikologis.

Secara psikologis, pendidikan dibentuk berdasarkan kecakapan dan kemampuan seseorang. Setiap tindakan maupun gagasan, akan meninggalkan jejak pada pikiran setiap individu. Pengulangan berkali-kali dari tindakan yang sama mampu membentuk beberapa keterampilan.

Semakin pikiran mendekati bakat aslinya, semakin ia mudah untuk membentuk keterampilan dan kecakapannya. Ibnu Khaldun menyatakan, pada umumnya, setelah menguasai sebuah keterampilan, seseorang akan kesulitan untuk memperoleh keterampilan lainnya.

Itulah mengapa jarang sekali kita temukan penjahit profesional yang juga terampil sebagai tukang kayu. Di lain sisi, Ibnu Khaldun juga menemukan fakta bahwa mempelajari hal baru mampu mempertajam pikiran dan akan membuat orang memiliki cara berpikir lain ketika memahami subjek yang berbeda.

Ilmu hanya akan berkembang sebagai respon dari kebutuhan lingkungan sosial. Sebagai contoh, bila lingkungan sosialnya agraris, maka orang cenderung akan belajar cara bercocok tanam.

Dalam hal ini, Indonesia sedang dalam masa yang tidak jelas. Apa kebutuhan sosial Indonesia? Lantas, mengapa setiap murid diwajibkan untuk mempelajari seluruh ilmu yang ada? Mengapa pemerintah tidak pernah belajar dari sistem pendidikan yang pernah diterapkan sejak dahulu?

Pada zaman Ibnu Khaldun, sekolah mengajarkan banyak sekali subjek. Diantaranya adalah geometri, aritmatika, geografi, dan matematika. Ibnu Khaldun juga menemukan banyak sekali siswa yang stres. Pendidikan semacam ini terjadi pada era golden age, sementara Indonesia masih menerapkannya. Telat berapa tahunkah pendidikan kita?

“Di Indonesia ini, perbedaan antara buruh dan pelajar itu hanya satu, yakni buruh dibayar sementara pelajar membayar. Tugas mereka disamakan, begitupula tujuannya”

Di Indonesia ini, perbedaan antara buruh dan pelajar itu hanya satu, yakni buruh dibayar sementara pelajar membayar. Tugas mereka disamakan, begitupula tujuannya. Ibarat Mozart dan Einstein dipersaingkan untuk dinilai keahliannya dalam bidang Fisika. Sistem pendidikan kini yang bahkan pernah terjadi dan terbukti gagal di zaman Plato.

Ujian nasional terbukti gagal. Dari tahun ke-tahun, sudah menjadi rahasia umum bila soal ujian nasional ini bocor. Kegagalan ini disebabkan oleh sistem pendidikan yang sangat mengapresiasi hasil dibanding proses.

Awalnya dimulai dari sistem pendidikan yang mengajari muridnya belasan mata pelajaran hanya untuk dipersaingkan. Selain itu, orangtua sebagai pendidik utama juga kerap kali mengapresiasi nilai anak tanpa melihat prosesnya. Jadi, apabila nilai anak jelek, ia akan memarahi anaknya terlepas dari seberapa keras usaha sang anak.

Spesialisasi pendidikan harus dimulai sejak awal. Sistem pendidikan di Eropa mulai melakukan hal tersebut. Pendidikan dasar seharusnya mengajari anak bernalar, belajar, sambil bermain, bukan menguasai segala pelajaran seperti pendidikan Indonesia ini.

Seharusnya setiap sekolah diberikan hak untuk membuat beberapa kurikulum untuknya sendiri. Pemerintah tetap memiliki standar kurikulum, namun selanjutnya, biarkan sekolah yg membuat kurikulum sendiri agar persaingan antar sekolah semakin ketat dalam memproduksi murid yang cerdas. Tentu hal ini akan sangat membantu karena sekolah itulah yang paham kondisi sosial dan pendidikan yang dibutuhkan siswa disekitarnya.

Di Finlandia, guru dilarang memberikan pekerjaan rumah pada siswa sebelum ia berusia 16 tahun. Terbukti negara Finlandia menjadi negara dengan pendidikan terbaik sedunia. Di Jerman, siswa setingkat SMK tak diajari pelajaran yang tidak berhubungan dengan kemampuan siswa. Di Indonesia, siswa SMK tetap diajari untuk mempelajari pelajaran yang tak ada hubungannya sama sekali dengan jurusannya.

Kita mampu melakukan segala hal, namun tak ada satupun yang kita kuasai hingga muncul istilah “Asians;Jack of all trades, master of none”. Sudah saatnya pendidikan kita dibenahi. Tidak hanya menghapus ujian nasional, namun juga merombak sistem dari awal. Kita perlu revolusi pendidikan.

Menteri pendidikan seharusnya memiliki penasihat yang terdiri dari beberapa Profesor visioner. Selama pendidikan Indonesia masih seperti ini, pendidikan kita tidak akan maju. 20% APBN yang digunakan untuk pendidikan akan menjadi sia-sia.

“Semua orang itu cerdas, namun bila engkau menilai ikan dari kemampuannya untuk memanjat, selamanya kau akan mempercayai bahwa ikan itu bodoh”, ujar Einstein”

Itulah mengapa menteri pendidikan harus berpikir maju dan terbuka. Orangtua juga perlu terlibat sebagai apresiator. Ubah kebiasaan apresiasi hasil daripada proses, karena dari sinilah mulainya akar korupsi dan kecurangan lainnya.

Seperti ucapan Ki Hajar Dewantara “Anak-anak hidup sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”. Negara tidak berhak menbandingkan kecakapan murid yang satu dengan lainnya. “Semua orang itu cerdas, namun bila engkau menilai ikan dari kemampuannya untuk memanjat, selamanya kau akan mempercayai bahwa ikan itu bodoh”, ujar Einstein.

Indonesia perlu merevolusi pendidikan karena pendidikan merupakan pondasi dasar kehidupan negara untuk menciptakan rakyat egaliter, jujur, sehat, cerdas, dan jauh dari kemiskinan.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Tidak seperti BBM, pendidikan akan terus beregenerasi menciptakan hal baru. Inilah mengapa pendidikan Indonesia amat penting untuk dibenahi.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: