//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Universitas Islam

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Universitas Islam adalah institusi yang menjadi medium terpenting pengembangan suatu peradaban. Di universitas pengembangan ilmu pengetahuan bisa maksimal dan di universitas pulalah pendidikan calon-calon pemimpin umat dan bangsa dapat menghasilkan. Strategi penekanan pada pendidikan universitas atau pendidikan masyarakat dewasa ternyata adalah pilihan para Nabi-nabi. Sebaliknya penekanan pada pendidikan menengah, seperti yang disimpulkan oleh Professor Naquib al-Attas adalah warisan penjajah. Penjajah menekankan pendidikan menengah agar bisa memproduk pegawai-pegawai kolonial dan agar tidak lahir pemimpin-pemimpin yang dapat membahayakan politik penjajah.

Namun, wajah universitas, baik di Barat maupun di Timur, terkadang bersifat elitis. Di Barat universitas tidak bisa dilepaskan dari kelahiran modernisme yang elitis itu. Di Timur karena pendidikan masyarakat awam pada mulanya memang begitu rendah universitas juga menjadi berwajah elit. Anggapan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa universitas-universitas dimasa lalu memang banyak bergulat dengan teori, karena prakteknya dilakukan diluar universitas.

Tapi, ketika kini universitas mulai banyak menawarkan ilmu-ilmu praktis, mahasiswanya banyak berorientasi pada dunia kerja. Akhirnya mahasiswa kehilangan idealisme dan universitas menjadi kehilangan perannya melahirkan pemimpin bangsa. Persoalannya dalam kaitannya dengan Islam, apakah universitas Islam telah memenuhi misinya mencetak pemimpin umat? Yang lebih penting lagi apakah perkembangan universitas Islam telah menjadikannya lebih berperan dalam menghasilkan ilmu-ilmu keislaman seperti dimasa lalu? Apakah universitas Islam mampu melahirkan sarjana-sarjana Muslim professional dalam berbagai bidang, pemimpin dan sekaligus pejuang umat? Pertanyaan-pertanyaan ini akan ditemukan jawabannya jika kita menatap wajah universitas Islam dengan seksama. Tapi ada baiknya kita berkaca pada universitas-universitas di dunia lain khususnya di dunia Barat.
Peran universitas secara umum dalam membangun peradaban tidak diragukan lagi. Fakta sejarah membuktikan bahwa hampir semua peradaban besar dunia memiliki universitas atau pendidikan yang setara dengan itu, meskipun tidak menggunakan sebutan atau istilah universitas. Di zaman kuno di Yunani terdapat Akademi Plato, Di China terdapat universitas Shang Hsiang, yang kemudian menjadi universitas Taixue dan Guozijian (254 M), di Persia terdapat Akademi Gundishapur dan Harran, di India terdapat universitas Nalanda dan Ratnagiri (abad ke 5 M), di Syria Utara terdapat Edessa dan monastri-monastri.

Di zaman klasik di Vietnam terdapat universitas Quoc Tu Giam (universitas nasional). Universitas tertua dan pertama di Eropah adalah Magnaura yang berdiri tahun 849 M di Konstantinople, sekarang Istanbul Turkey. Disusul oleh universitas Preslav dan Ohrid (abad ke 9) di Bulgaria. Universitas Bolgona di Italy (tahun 1088), universitas Paris, Perancis yang kemudian digabung dengan Sorbone (tahun 1150).

Sebelum Bologna berdiri di Baghdad telah ada universitas Nizamiyyah (berdiri tahun 1067), dan seabad kemudian yaitu tahun 1167 universitas Oxford di Inggeris baru berdiri. Sejak berdirinya Universitas Oxford universitas-universitas di Inggris terus berdiri hampir setiap abad. Universitas Cambridge (tahun 1209), universitas St Andrews (tahun 1413), Universitas Glasgow (tahun 1451), unversitas (tahun 1495), universitas Edinburgh (tahun 1583), unversitas Dublin (tahun 1592). Dalam perjalanan sejarah peradaban Islam institusi pendidikan pertama adalah masjid. Dari serambi masjid yang disebut al-Suffah institusi pendidikan Islam bermula. Di zaman dinasti Umayyah masjid masih menjadi pusat pendidikan dan pengkajian, disamping lembaga-lembaga pendidikan tradisional lainnya. Pada abad ke 9 di Fez Maroko terdapat universitas al-Qarawiyyin (al-Karaouine) berdiri pada tahun 859 M. Universitas ini oleh The Guinness Book of World Records dianggap universitas tertua di dunia.

Padahal sebelum itu (tahun 849) telah berdiri universitas Manaura di Konstantinopel. Mungkin al-Qarawiyyin sebagai universitas lebih lengkap daripada Magnaura. Di zaman Abbasiyah selain masjid (jami’) tempat belajar mengajar, pada tahun 1067 berdiri “universitas” Nizamiyyah (tempat al-Ghazzali mengajar). Selain itu juga terdapat lembaga riset dan penterjemahan Bait al-Hikmah, pusat studi dan diskusi Dar al-ilm, Dar al-Kutub, Majlis al-Nazar, dan sebagainya. Seabad kemudian yaitu tahun 1171 di Cairo Mesir berdiri universitas Islam al-Azhar.

Selain itu dibalik metropolisnya peradaban Islam di Spanyol ternyata disana berdiri beberapa universitas. Di kota-kota Kordova (abad ke 9), Seville (abad ke 11), Malaga dan Granada (abad ke 14) ternyata didirikan universitas-universitas dengan berbagai fakultas. Universitas Kordova misalnya memiliki fakultas teologi, astronomi, matematika, kedokteran dan hukum. Universitas Granada mempunyai fakultas teologi, ilmu hukum, kedoteran, kimia, filsafat dan astronomi. Dalam catatan sejarawan Muslim al-Maqarri di Kordova saja terdapat 73 perpustakaan, disamping toko-toko buku dan masjid-masjid.
Universitas-universitas itu sudah tentu berdiri atas dasar cita-cita dan hajat suatu bangsa. Dengan kata lain universitas didirikan berdasarkan pandangan hidup (worldview) masing-masing bangsa. Di India institusi pendidikan berasal dari tradisi membaca dan memahami kitab Veda. Dalam Islam pendidikan berawal dari aktifitias memahami al-Qur’an dan Sunnah. Di Eropah Barat universitas-universitas lahir atas perlindungan gereja Katholik Roma.

Namun, universitas-universitas pada masing-masing peradaban itu mempunyai asal usulnya sendiri. Di Eropah tidak semua universitas bahkan kebanyakan universitas tidak berasal usul dari sekolah gereja, kecuali universitas Paris dan Oxford. Yang menjelma menjadi universitas adalah sekolah-sekolah yang memang telah ada sebelumnya. Itulah mungkin sebabnya mengapa gereja tidak berperan dominan dalam mewarnai kurikulum universitas. Materi teologi Kristen juga tidak menjadi syarat masuk universitas dan tidak diajarkan di fakultas apapun. Syarat masuk universitas hanyalah menyelesaikan tingkat Trivium yang terdiri dari pendahuluan ilmu tatabahasa (grammar), retorika, dialektika dan logika. Kemudian tingkat Quadrivium yang terdiri dari aritmatika, geometri, musik dan astronomi.

Dalam Islam hampir semua universitas berasal dari sebuah masjid. Meskipun terdapat pula beberapa lembaga pendidikan yang tidak bermula dari sebuah masjid, namun masih mempunyai ikatan kuat dengan kajian al-Qur’an dan Sunnah. Universtias Kordoba bukan berasal dari masjid, tapi teologi diajarkan. al-Azhar asalnya adalah sebuah masjid yang kegiatan utamanya adalah ritual peribadatan dan kajian-kajian ilmu agama. Ketika ia menjelma menjadi universitas (tahun 1171) ilmu agama masih dominan dalam kurikulum. Mata kuliah Tawhid, Fiqih, Tafsir, Hadith masih terus dipertahankan, disamping mata kuliah kedokteran, filsafat, dan logika diajarkan.

Selain itu bagaimana universitas-universitas itu berkembang dan merespon perubahan zaman mempunyai caranya sendiri-sendiri. Di Eropah abad pertengahan universitas memang sangat menekankan pada pengkajian ilmu untuk ilmu. Namun pada akhir abad pertengahan dan masuk ke abad modern universitas-universitas itu mulai menunjukkan perubahan yang signifikan. Perubahan itu dipengaruhi oleh ide-ide humanisme, Pencerahan (Enlightenment), Reformasi dan revolusi industri. Akibat dari pengaruh Pencerahan banyak universitas di bubarkan dan diganti menjadi lembaga-lembaga professional. Misi dan orientasi universitas mengarah pada ilmu-ilmu praktis dan karir yang berguna untuk pelayanan publik. Bahkan penemuan Dunia Baru tahun 1492 telah menjadikan HAM dan hukum internasional mata kuliah baru.
Demikianlah universitas-universitas di Barat terus berpacu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahun 1930 an universitas-universitas di Eropah mendirikan institut-institut dibidang militer, tehnik, politehnik, bisnis, kedokteran, kedokteran hewan, pertanian, pendidikan, politik dan musik. Mulai abad ke 19 dan 20 universitas-universitas yang berorientasi ke sains dan teknologi itu juga menjadi tidak lagi elitis.
Disisi lain agama mulai diterima sebagai bahan kajian, tapi agama dikaji sebatas sebagai ilmu bukan sebagai suatu ajaran pembentuk moralitas dan karakter mahasiswa. Hutchins yang bisa dianggap mewakili pemikiran Barat sekluer liberal dalam bukunya Higher Learning menyatakan bahwa perguruan tinggi tidak perlu bertujuan membentuk moral dan karakter, tapi cukup menekankan pada pengembangan intelektualitas. Baginya mengajarkan teologi di universitas tidak ada gunanya. Senada dengan Huthcins adalah Cardinal Newman. Dalam karyanya On the Scope and Nature of University Education ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan universitas adalah intelektual dan penyebaran ilmu pengetahuan, dan bukan pendidikan moral. Mahasiswa masuk universitas untuk belajar ilmu-ilmu praktis untuk hidup dan menghidupi dirinya.

Dalam peradaban Islam bentuk universitas Islam tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Ia tetap merupakan pusat pengkajian ilmu-ilmu Islam baik naqliyyah maupun aqliyyah. Berbeda dari universitas di Barat universitas Islam dengan ilmu-ilmu naqliyyah dan aqliyyah tetap bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral (akhlaq). Sebab dalam Islam ilmu itu berdimensi adab dan sebaliknya sehingga akumulasi ilmu dapat menghasilkan peradaban. Ilmu juga berkaitan dengan agama (din) dan ketika ilmu berkembang ia menjadi tamaddun. Tidak ada pemisahan antara ilmu dan agama.

Universitas Islam tertua yang hingga kini terus setia menyertai jatuh bangunnya peradaban Islam adalah universitas al-Azhar di Mesir. Meski situasi politik dan kekuasaan berubah-rubah al-Azhar tetap berjalan sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam. Dari sini lahir ulama-ulama pemimpin umat. Para mahasiswanya juga tidak hanya diajar ilmu untuk ilmu, tapi ilmu untuk amal dan perjuangan Islam.

Ketika Napoleon Bonaparte masuk menjajah Mesir tahun 1789 M mahasiswa al-Azhar turut ambil bagian dalam melakukan perlawanan. Namun, meski anti penjajah al-Azhar tidak segan-segan belajar ke Barat. Pada tahun 1826 al-Azhar di bawah pimpinan Ali Pasha mengirim utusan ke Perancis untuk belajar tentang peradaban Barat. Bahkan untuk memperbaharui sistim pendidikan di al-Azhar Muhammad Abduh meniru sistim Barat.

Meski demikian al-Azhar tetap mempertahankan identitas dirinya sebagai universitas Islam. Ia dipimpin seorang Syeikh dan dibantu oleh rektor-rektor. Selain itu al-Azhar al-Sharîf kini memiliki beberapa komisi independen yang terdiri dari Lembaga Ulama dan Syeîkh Al-Azhar (mashaîkhah al-Azhar), Lembaga Riset, Pengawasan Budaya, dan Misi Islam (majma’ al-buhûts al-islâmiyyah wa Idârah al-tsaqâfah wa al-bu’ûts al-islâmiyyah), Majlis Tinggi Al-Azhar (majlis al-a’lâ li al-azhar), Universitas Al-Azhar (jâmi’ah al-azhar), serta Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah.

Meskipun umat Islam memiliki al-Azhar yang terus menghasilkan ulama-ulama dan pemimpin umat Islam, namun umat Islam ternyata juga memiliki universitas-universtias sekuler ala Barat yang tidak berkiblat kepada bentuk universitas Islam dimasa lalu. Di Mesir sendiri berdiri universitas Cairo, di Indonesia berdiri universtias Indonesia, universitas Gajah Mada dll, di Pakistan berdiri universitas Punjab, di Malaysia berdiri universitas Kebangsaan Malaysia, unversitas Malaya dll, di Saudi berdiri universita King Abdul Aziz dan lain sebagainya.

Universitas-universitas itu tidak hanya meninggalkan label Islam tapi juga tidak memberi penekanan kepada ilmu-ilmu keislaman yang fundamental, bahkan tidak sedikit yang meninggalkannya atau tidak memiliki fakultas agama Islam. Contoh dalam hal ini cukup banyak, tapi disini dipaparkan universitas-universitas di Jordania sebagai contoh yang dapat mewakili universitas-universitas di Timur Tengah. Disana universitas didirikan atas saran dan berdasarkan konsep-konsep universitas di Inggeris. Fakultas agama Islam hanya menjadi salah satu fakultas dan berkaitan atau dikaitkan dengan fakultas yang lain.

Ketika, diadakan konferensi universitas-universitas negara-negara Islam, di IIU Malaysia tahun 2000 persoalan yang dibahas hanya sebatas kerjasama antar universtias dan pengembangan bidang-bidang ilmu tertentu. Persoalan bagaimana agar mahasiswa memeperoleh ilmu-ilmu keislaman dan sekaligus sains dan ilmu humaniora tidak muncul.

Situasi inilah barangkali yang mendorong Prof. Naquib al-Attas mengungkapkan gagasannya pada First World Conference on Islamic Education tahun 1977 agar dunia Islam memiliki universitas Islam yang menghasilkan Sumber Daya Manusi Muslim yang berkualitas. Gagasan ini disampaikan karena ia telah memiliki konsep Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Konsep yang kemudian diikuiti oleh Prof. Ismail R. al-Faruqi. Kelanjutan dari konferensi itu adalah Second World Conference on Islamic Education yang diadakan di Islamabad. Sebagai realisasinya adalah berdirinya International Islamic University Islamabad yang diikuti kemudian oleh International Islamic University Malaysia.

Kedua universitas ini cita-cita utamanya adalah menerapkan program Islamisasi ilmu pengetahuah dalam kurikulum. Yaitu dengan memasukkan mata kuliah agama pada fakultas umum dan memasukkan mata kuliah umum pada fakultas agama. Di IIU Islamabad dalam kurikulum fakultas umum misalnya diajarkan Bahasa Arab, Islamic Studies, fiqh dan Ushul Fiqh, serta sistem hafalan al-Qur’an.

Selain itu di fakultas umum lainnya diajarkan mata kuliah Islam and Modern Technology, Computer Application in Quran and Hadith, Islamic Economics, Comparative Financial Management An Islamic Perspective, Comparative Marketing Management An Islamic Perspective, Environment in Islamic perspective, Commercial Law in Islam, dan lain sebagainya. Baca (Andi Iswandi, International Islamic University Islamabad, Ruh Islami dan Proyek Islamisasi).

Selain dua universitas itu berdiri pula dua institut internasional dengan tujuan yang sama. Kedua institut itu adalah International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Malaysia dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) Amerika. Apa yang menjadi penekanan pada kedua insitut ini khususnya ISTAC adalah sama yaitu Islamisasi ilmu pengetahuan dalam bentuk yang riel. ISTAC hanya menangani program post-graduate dan menerima mahasiswa S1 dan S2 dari fakultas apapun. Yang memiliki latar belakang studi Islam dibekali pengetahuan “umum”, yang berlatar belakang pengetahuan “umum” diwajibkan mengambil materi studi Islam. Selain itu upaya membangun budaya ilmu nampak jelas dengan sarana dan prasarana perpustakaan serta professor yang berkualitas serta perkuliahan yang rutin. Selain itu kuliah-kuliah pencerahan dari al-Attas merupakan pelengkap “menu” dari sebuah school of thought.

Dari sini kita sekurangnya dapat menggambarkan bahwa di dunia Islam kini terdapat tiga wajah universitas: pertama yang tetap berpegang pada tradisi Islam, kedua yang sama sekali tidak terkait dengan tradisi Islam dan ketiga yang terkait dengan tradisi dan merespon modernisasi dan membawa misi Islamisasi.

Dari ketiga tren diatas kita dapat membaca termasuk tren yang manakah perkembangan Universitas Islam Negeri (UIN) dan universitas Islam lainnya di Indonesia? Resminya IAIN bertujuan sama dengan al-Azhar yakni “agar kelak di kemudian hari dapat memprodusir Ulama2 dan Sardjana2 jang sungguh-sungguh mengerti dan dapat mengerdjakan setjara praktek jang disertakan dengan pengertian yang mendalam tentang hukum2 Islam’’.

Nampaknya perkembangannya IAIN /UIN lebih mengarah kepada tren ketiga di atas, hanya bedanya misi Islamisasi tidak terdengar dari kampus IAIN/UIN manapun. Malahan, framework studi Islam telah diwarnai oleh pendekatan orientalisme, seperti yang diakui Harun Nasution sendiri. Kini lebih jauh lagi upaya merespon tantangan dunia modern dan posmodern cenderung kompromis dan malah mengarah pada dekonstruksi tradisi intelektual Islam.
Akibatnya, kajian terhadap tradisi dan ilmu-ilmu keislaman tradisional mengalami penurunan yang mengkhawatirkan. Dalam situasi seperti ini minat mahasiswa pada fakultas agama menurun, karena mahasiswa cenderung memilih fakultas-fakultas “umum’’ yang ternyata didirikan tanpa persiapan manhaj dan konsep epistemologi yang jelas. Fakultas agama seperti diletakkan secara bersaingan dengan fakultas “umum“ atau mungkin malah dimarginalkan. Belum ada ide mengintegrasikan mata kuliah agama kedalam semua fakultas, sehingga fakultas ekonomi, politik, fisika, komputer dsb tetap dapat melahirkan sarjana-sarjana yang ulama seperti cita-cita semula.

Banyak proses yang perlu dilalui untuk membenahi universitas Islam, khususnya ilmu pengetahuannya. Sebab semua pihak boleh dikatakan sepakat bahwa krisis multidimensi umat Islam berpangkal pada krisis epistemologi alias krisis ilmu pengetahuan. Buktinya universitas Islam tidak mampu mencetak sarjana-sarjana dalam berbagai bidang ilmu keislaman dan alumninya berperan dalam berbagai sektor kehidupan umat. Ilmu yang dikuasai umat Islam ternyata adalah ilmu-ilmu yang tidak lagi terkait secara konseptual dengan konsep-konsep Islam. Akibatnya, universitas Islam kini seperti kehilangan peran sentralnya dalam membangun peradaban Islam.

Dulu di Spanyol dan Baghdad universitas merupakan ajang pertemuan para cendekiawan, tempat pembacaan puisi-puisi baru, penyampaian pidato ilmiyah dari karya-karya baru serta diskusi-diskusi publik dalam masalah-masalah umat. Sentralitas peran universitas di masa itu dapat diketahui dari slogan yang tertera di pintu gerbang universitas Granada: “Dunia hanya terdiri dari empat unsur: pengetahuan orang bijak, keadilan penguasa, doa orang saleh dan keberanian kesatria.” Masalahnya apakah universitas Islam kini mampu menghasilkan orang alim, saleh, adil, dan mujahid? Itulah pekerjaan rumah kita. Wallahu a’lam.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: