//
you're reading...
Creativity, Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan

Menulis dan Imajinasi

Oleh Hernowo
January 20, 2015

Menulis itu bukan karena tangan kita bisa menulis, melainkan karena kemampuan kreativitas imajinasi kita.
— PUTU WIJAYA

Dalam kutipan yang berasal dari Putu Wijaya tersebut tampak bahwa Putu lebih menekankan pentingnya APA yang akan ditulis bukan CARA menulis. Cara menulis tetaplaj penting, namun APA atau substansi yang akan ditulis itu jauh lebih penting. Jika kita telah memiliki teknik-teknik menulis yang lengkap dan canggih tetapi tidak memiliki substansi untuk ditulis, apa yang ingin kita tulis? Bahayanya, tanpa memiliki substansi, seorang penulis ada kemungkinan akan “meminjam” (untuk tidak mengatakan “mencuri”) substansi milik orang lain. Dalam era internet seperti saat ini, cara menulis dalam bentuk “copy-and-paste” sudah menjadi fenomena umum bahkan, kadang, tak perlu dipertanyakan lagi.

 

Dalam kondisi lain, kalau tak “meminjam”, seorang penulis akhinya akan seadanya dalam menyediakan substansi. Jika seadanya, maka substansi itu akan tidak memiliki apa-apa. Mustahil substansi itu akan mampu menarik seseorang untuk membacanya. Bahkan, bisa jadi, substansi itu akan sangat berantakan atau hambar karena sesungguhnya substansi tersebut belum matang, belum membentuk suatu bangunan yang jelas (apakah itu berupa bangunan jembatan atau masjid atau gedung pencakar langit). Para penulis yang berpengalaman tahu bahwa substansi yang belum membentuk “bangunan” yang jelas tidak dapat dipaksakan untuk diungkapkan. Ia harus menunggu momen yang tepat.

 

Sekali lagi, Putu lebih mementingkan bagaimana APA itu diperoleh. Dia menyebutkan satu bagian penting dari proses berpikir yang rumit: kreativitas imajinasi seseorang. Kreativitas adalah berpikir yang tidak biasa, yang melompat, dan kadang-kadang unik. Hanya orang-orang yang terlatih dalam berpikirlah yang akan memiliki kreativitas. Membaca adalah salah satu cara dalam melatih pikiran agar memunculkan kreativitas. Lewat membaca, seseorang akan memasukkan sesuatu yang berbeda ke dalam pikirannya. Sesuatu itulah yang membuat pikiran yang suka membaca akan terlatih dalam berpikir. Memang, tidak semua kegiatan membaca membuat seseorang kreatif. Hanya jika dia ingin dapat menulis, membaca jelas akan sangat membantunya—khususnya dalam mematangkan substansi yang telah dimilikinya.

 

 

Imajinasi adalah bagian pikiran yang berada di luar lingkaran kemapanan. Kadang ia berasal dari dunia lain yang jauh dan sulit dilacak asal-usulnya. Sampai di sini, saya harus meminta bantuan Haidar Bagir untuk menunjukkan apa sesungguhnya imajinasi. Meskipun tidak mudah memahami apa itu imajinasi, semoga pemaparan Haidar dengan mengutip banyak tokoh yang meneliti dan merumuskan imajinasi, dapat membantu diri kita untuk mendekatinya. Paparan Haidar tentang imajinasi ini saya cuplik dari pengantarnya untuk buku Imagine That! (Ayo, Berkhayallah!): Cara Baru nan Jitu Mengembangkan Beragam Kecerdasan lewat Kemampuan Berimajinasi (MLC, 2005) karya Dr. Lane Longino Waas.

 

“Dalam kata-kata seorang pemikir Inggris dan teoretisi pendi­dikan terkenal John Dewey, ‘imajinasi adalah pintu gerbang yang melaluinya makna diturunkan dari pengalaman-peng­alam­an masa lampau lantas masuk ke masa sekarang; imajinasi adalah penyesuaian secara sadar apa-apa yang baru dan apa-apa yang lama.’ (Tentu, hampir-hampir tak perlu dikatakan lagi, sekadar berkhayal dan bermimpi tidaklah cukup. Dibutuhkan kerja keras dan pemenuhan prosedur-prosedur dan syarat-sya­rat tertentu agar khayal dan mimpi benar-benar bisa diwujud­kan ke dalam kenyataan).

 

“Menurut Maxine Green (Releasing the Imagination: Essays on Education, the Arts, and Social Change, Jossey-Bass, San Francisco, 1995) daya imajinasi juga memampukan seseorang untuk bisa berempati terhadap orang lain. Alasannya saya kira mudah diduga: imajinasi memberi kita kemampuan untuk dapat menempatkan diri kita dalam posisi orang lain.

 

“Dunia imajinal adalah juga lokus (tempat) beroperasinya pengalaman-pengalaman kesenimanan, pengalaman puitik, dan juga pengalaman-pengalaman mistikal. Itu sebabnya para mistikus besar biasa menggunakan simbol-simbol, metafor-metafor, puisi, dan kisah-kisah khayalan untuk mengungkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka.

 

“Memang, selain sebagai pendahulu perwujudan real karya nyata, khayal adalah suatu alat komunikasi. Pertama, alat bagi kita untuk memahami, dengan cara membayangkan melalui pembentukan konsep-konsep atau bentuk-bentuk khayali (ima­gery). Yakni, simbol-simbol, grafik-grafik, bagan-bagan, meta­for-metafor, bahkan juga mitos-mitos seperti disinggung di atas. Karena, seringkali konsep-konsep abstrak lebih mudah dipa­hami setelah dibayangkan dalam bentuk-bentuk semacam ini. Kedua, bentuk-bentuk khayali juga bisa menjadi medium pe­ngomunikasian konsep-konsep abstrak agar kemudian lebih mudah dipahami.”

 

Ketika menulis, pernah atau sempatkah Anda memanfaatkan daya imajinasi Anda?

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: