//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Renungan

Renungan Pendidikan #39

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Tahun 1950, ada sebuah penelitian sederhana, yang kemudian banyak dibenarkan oleh psikologi modern dan Islam.

Penelitian ini adalah dengan memberikan sebuah tugas sederhana kepada dua kelompok. Kelompok yang pertama diiming imingi hadiah bila mampu menyelesaikan dengan cepat, sementara kelompok kedua tidak diiming imingi apapun. Instruksi kepada kedua kelompok disampaikan dengan datar.

Tugas sederhana itu adalah diberikan 3 macam benda, yaitu sebuah lilin lampu bersumbu, sebuah kotak besar korek api dan sebuah paku. Instruksinya adalah silahkan menyalakan lilin lampu tanpa lelehannya jatuh ke meja di bawahnya.

Jika kita diberikan tugas ini maka yang terbayang adalah menancapkan lilin dengan paku di dinding lalu menyalakannya. Cara ini tentu saja tetap membuat lelehan lilin jatuh ke meja di bawahnya. Coba fikirkan dengan cepat?!

Ternyata siapa yang paling cepat menyelesaikan? Semua pandangan materialis dan kapitalis modern, mungkin termasuk kita, sudah tentu menganggap kelompok pertama yang diiming imingi hadiah pasti lebih cepat.

Bukankah kita selalu berasumsi bahkan mengimani segala sesuatu lebih baik dan lebih bagus serta lebih cepat jika diberi hadiah atau reward?

Ternyata tidak, yang paling cepat menyelesaikan adalah kelompok yang tidak diiming imingi hadiah apapun. Tanpa iming iming, ternyata kelompok kedua bekerja lebih freedom dan kreatif. Mata mereka jernih melihat persoalan, mereka mampu out of the box. Apa yang mereka lakukan?

Mereka membuka kotak korek api, mengeluarkan semua isinya. Menancapkan kotak korek api di dinding dengan paku, lalu meletakkan lilin di atasnya dan menyalakannya.Done! Tentu saja lelehannya tidak jatuh ke atas meja karena terhalang kotak korek api.

Orang orang yang bekerja tanpa iming iming ternyata bisa lebih cepat karena lebih kreatif. Sementara mereka bekerja dengan iming iming ternyata tidak bisa memandang secara lateral bahwa kotak korek api bisa digunakan sebagai alas, mereka hanya berfikir Fix Function, yaitu fungsi fungsi yang sudah melekat pada benda.

Iming iming atau reward ternyata mendorong orang berfikir fix function semata, mereka gagal melihat fungsi lain. Iming iming ternyata menghalangi mereka dari kreatif dan jernih berfikir.

Tentu saja jika penelitian ini diulang kelompok yang mendapat iming iming reward bisa lebih cepat karena sudah tahu caranya. Mentalnya “fix function”, syahwatnya “fix reward” sementara otaknya “fix curriculum”.

Nah, dunia modern hari ini baru menyadari bahwa Reward and Punishment, atau Stick and Carrot ternyata hanya cocok pada pekerjaan pekerjaan yang memang hanya “fix function” seperti di pabrik pabrik, dimana orang mengerjakan sesuatu berulang dan fix.

Dunia hari ini, bahkan sebelum era industri, justru berisi pekerjaan, profesi maupun bisnis yang hampir semuanya tidak ada yang “fix function”, menuntut kreatifitas yang tinggi, ketulusan yang berangkat dari passion dan talent, kebahagiaan tingkat tinggi dalam menjalaninya.

Sistem reward dan juga punishment sangat tidak dianjurkan dalam proses mendidik, baik terkait fitrah belajar, fitrah keimanan maupun fitrah bakat. Dengan cambuk dan iming iming, orientasi anak2 akan berubah, keikhlashan bergeser, kebahagiaan semu semata, keridhaan akan tertutupi lalu menggerus fitrah itu sendiri.

Tabiat reward itu manipulative dan addictive, memanipulasi perilaku dan membuat ketagihan yang terus meminta lebih. Diharamkan memanipulasi apapun dari fitrah anak anak kita termasuk memanipulasi cinta, bakat, keshalihan dstnya.

Istilah reward and punishment, muncul di era industri kapitalisme, sebagai bahasa halus dari Stick and Carrot. Orang hanya perform dan sholeh jika diberi tongkat pemukul atau hadiah wortel. Pendekatannya mirip hewan ternak atau kerbau pembajak sawah atau keledai penarik kereta.

Di pabrik2 tempo dulu, reward and punishment ini efektif dan efisien, karena yang dikerjakan buruh adalah sesuatu yang fix function, misalnya memasang kancing, memasang ban dll, siapa yang cepat dan yang banyak, maka dia yang terbaik, maka diperlukan cambuk dan iming2 hadiah.

Di dunia hari ini, dimana keindahan, estetika dan kemanusiaan dijunjung, pemaknaan atas karya menjadi nilai2 yang utama dan dihargai, dimana kreatifitas dituntut tinggi maka reward and punishment sama sekali tidak efektif apalagi efisien. Reward bahkan membuat orang mati nurani dan mati kreatifitas.

Dalam pendidikan, tidak pernah bisa dibenarkan sedikitpun model reward and punishment, atau iming iming dan ancaman. Ini justru merusak bahan baku tumbuhnya fitrah, yaitu keikhlasan dan keridhaan, cinta dan ketulusan, motivasi alamiah dan gairah wajar.

Sesungguhnya,

Fitrah keimanan ditumbuhkan dengan atmosfir kebaikan dan keteladanan,

Fitrah belajar ditumbuhkan dengan idea menantang dan inspirasi menggairahkan

Fitrah bakat ditumbuhkan dengan fasilitatif kesempatan, konsistensi pilihan dan kedisiplinan yang menyenangkan.

Bukan dengan Reward and Punishment.

Lihatlah sepanjang sejarah, semua Nabi dan Rasul adalah para pendidik peradaban dan penumbuh fitrah kaumnya, baik individual maupun komunal, tidak pernah dijumpai diantara mereka menjanjikan kelimpahan dunia dan menakut nakuti kesusahan urusan dunia. Maka lahirlah generasi peradaban terbaik yang tak silau dunia, tak rakus kelezatannya dan tak gentar ancaman dunia.

Reward yang dijanjikan adalah yang tak tampak, begitupula punishment yang tak tampak. Sesuatu yang paling akhir, yaitu di akhirat. Reward dan punishment adalah buah dari amal perbuatan di dunia. Adapun di dunia, beramalah dengan ikhlash dan ridha, tanpa diganggu syahwat dunia.

Inilah maksud Kitabullah untuk tidak fokus pada keindahan dunia dan tidak cemas pada keburukan dunia. Jadi bukan meninggalkan dunia lalu sibuk ritual, namun menyadari bahwa ketidaktergangguan atas motif2 dunia dan syahwat dunia, jelas yang akan melahirkan keshabaran, kesyukuran, kesungguhan, kebahagiaan dstnya.

Tanpa ketergantungan atas syahwat dunia maka karya dan amal yang dihasilkan sangat tulus dan jernih, kreatif dan inovatif, indah dan penuh rahmat, menebar manfaat serta sangat berakhlak mulia.

Semoga fitrah anak anak kita tidak tersimpangkan oleh “reward and punishment” dunia.

Salam Pendidikan Peradaban,
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: