//
you're reading...
Human being, Pendidikan

Pendidikan Karakter Barat

Oleh : Dr. Dinar Dewi Kania (Peneliti Insists)
Sumber: http://insistnet.com/pendidikan-karakter-barat/

Fritjof Capra seorang ilmuwan Barat mengungkapkan kegelisahannya. Menurutnya saat ini, ahli-ahli dalam berbagai bidang tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang muncul dalam bidang keahlian mereka. Para ekonom tidak mampu lagi memahami inflasi, Onkolog bingung tentang penyebab kanker; psikiater dikacaukan oleh schizofrenia, dan polisi semakin tidak berdaya oleh semakin tingginya tingkat kriminalitas. (Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban; Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan, cetakan keenam, Jakarta : Bentang Pustaka, 2004, hal. 8)

Problematika sosial tersebut akhirnya memunculkan pemberontakan-pemberontakan dalam masyarakat modern. Barat kemudian berusaha mengembangkan pendidikan nilai atau karakter yang berorientasi kepada nilai, etika dan moralitas yang diharapkan dapat memunculkan manusia-manusia yang humanis.

Pendidikan karakter dikembangkan oleh Barat karena mereka percaya, sekolah memiliki peranan penting dalam membentuk dan memperkuat karakter dasar yang akan mendukung terciptanya masyakarat yang baik. Namun menurut James Arthur dalam bukunya Education with Character, berbicara tentang pendidikan karakter berarti masuk ke dalam wilayah yang rawan dengan pertentangan, yaitu pertentangan antar definisi dan ideologi. Hal tersebut tentunya tidak mengherankan karena pendidikan karakter di Barat dikembangkan dan bersumber dari nilai-nilai budaya. Nilai dalam kaitannya dengan budaya, merupakan ide tentang apa yang baik, buruk, dan memadai. Menurut para ahli sosiologi Barat, nilai (value) dan moralitas tidak bersifat universal, namun beragam atau berbeda-beda di tiap kultur sosial. Premis tentang nilai pun muncul dan berubah sesuai dengan perubahan meta-ideologi dari lingkungan tempat nilai tersebut muncul. Sebagai contoh, apabila sebuah masyarakat lebih dominan kepada agama akan condong kepada nilai-nilai supranatural, sedangkan apabila nilai lebih berorientasi pada pada ekonomi pasar, maka moral akan cendrung kepada uang, pendapatan dan kekayaan.(Hitlin, Steven dan Stephen Vaisey (ed), Handbook of The Sociology of Morality, New York : Springer, 2010, hal. 126)

Peradaban Barat modern menganggap nilai sebagai produk rasionalitas individu-individu, namun ketika nilai berada dalam konteks sosial dan budaya, maka nilai diartikan sebagai konsensus bersama sekelompok manusia. Sebagaimana pandangan Weber, salah seorang tokoh sosiologi Barat, yang menyatakan bahwa nilai itu ada secara objektif dalam subjektivitas manusia dan murni menjadi milik dari pribadi-pribadi. (Ibid, hal. 39).

Dengan itu, konsepsi Barat tentang nilai, moral, dan etika bersifat relatif dan sangat berbeda bahkan bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Konsep tentang apa yang disebut baik dan buruk merupakan kancah pertarungan pemikiran yang tak pernah henti dari filosof-filosof Barat, sejak jaman Yunani sampai hari ini. Dari pendidikan yang berorientasi kepada etika Kristen sebagaimana pemikiran Thomas Aquinas, kemudian berubah menjadi paham materiasme yang dikembangkan Decartes. Sejak saat itu, ilmu diaggap sebagai value free atau bebas nilai sehingga pendidikan di Barat dikembangkan “tanpa” nilai. Moral, etika, agama, kemudian dijauhkan dari kurikulum dengan harapan manusia dapat lebih cerdas dan kreatif dalam menciptakan dan berinovasi di bidang sains dan teknologi.

Hal tersebut merupakan konsenkuensi dari sekularisasi yang melanda Eropa setelah hilangnya kepercayaan masyarakat Barat terhadap kepempinan gereja. Sekularisasi menyebabkan pengukuran baik-buruk, benar-salah, semata-mata dilakukan melalui rasio dan pengalaman indera manusia. Masyarakat Barat pada akhirnya menganggap nilai-nilai agama merupakan fenomena subjektif yang dialami oleh masing-masing individu dan tidak bersifat universal. Konsepsi nilai dalam peradaban Barat terus berevolusi sesuai dengan tuntutan jaman akibat ketiadaan nilai absolut yang bersumber dari wahyu yang mengatur kehidupan masyarakat dan menjadi rujukan moralitas. Konsep nilai berkembang sesuai dengan konsepsi masyarakat Barat terhadap hakikat manusia, agama dan ilmu serta kehidupan itu sendiri. Perkembangan konsep nilai ini menunjukkan betapa Barat tidak pernah akan berhenti merumuskan nilai-nilai yang dianggap baik bagi kehidupan masyarakatnya. Sejarah memperlihatkan perubahan radikal konsep nilai di Barat, dimulai dari penerimaan pada etika moral gereja, sampai akhirnya berujung kepada penghapusan unsur-unsur metafisika dalam etika moralnya. Dahulu gereja mengharamkan tindakan homoseksual karena tidak sesuai dengan nilai etika agama tersebut, namun saat ini dunia menyaksikan seorang homoseksual telah diangkat menjadi Uskup di Gereja Angllikan, New Hamshire pada tahun 2003 lalu.

Hal tersebut tentunya berbeda dengan pendidikan karakter dalam Islam yang menekankan pada konsep adab. Islam berbeda dengan Barat, mempunyai teladan manusia yang mempunyai karakter sempurna, yaitu Rasulullah saw. Konsep adab dalam Islam terkait dengan keyakinan bahwa dalam melakukan tindakan, manusia mempunyai rujukan yang utama yaitu wahyu Allah swt dan sunnah Nabi-Nya. Konsep pendidikan karakter yang bercorak sekuler-liberal tidak mungkin dapat mencetak manusia-manusia beradab. Menurut Prof al-Attas, prinsip etika yang sejati dan universal hanya dapat dibangun oleh jiwa manusia yang bersifat spiritual. Yaitu ketika jiwa mendapatkan ilmu yang benar dari Tuhannya. Sehingga merupakan sesuatu yang memprihatinkan apabila umat Islam masih percaya bahwa etika universal dapat dibangun menggunakan framework Barat modern yang menganggap Tuhan dan jiwa tidak memiliki objektivitas dan nilai ilmiah sebagai sumber ilmu.*

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: