//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #38

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Sistem sosial kita memaksa anak anak kita untuk lambat dewasa. Dewasa dalam masyarakat ini dimaknakan apabila seseorang telah menjadi sarjana dan sudah menjadi “orang”. Menjadi “orang” yang dimaksud sistem sosial kita tentu ukurannya telah bekerja dengan gaji besar.

Penglambatan kedewasaan atau pembocahan ini berlangsung sejak anak anak kita sudah mencapai baligh (bisa reproduksi) di usia rata rata 13-15 tahun, sampai dianggap bisa berproduksi di usia “sudah sarjana”, di usia rata-rata 23-25 tahun.

Kesenjangan yang lebar ini dalam sistem sosial modern di sebut dengan Kelas Remaja.

Padahal Islam tidak pernah mengenal istilah remaja – adolescence – atau “baligh belum aqil”, bahkan dunia tidak mengenal istilah remaja sampai abad ke 19.

Bayangkan untuk menjadi produktif, seorang anak yang sudah menjadi pemuda, yang secara syariah sudah jatuh semua kewajiban setara orang dewasa, masih harus menunggu status sosialnya selama hampir 10 tahun.

Padahal siapapun tahu, menjadi Sarjana belum tentu produktif. Banyak perusahaan mengeluh karena harus mengeluarkan lagi begitu banyak biaya untuk mentraining dan menyekolahkan para “fresh graduate”. Fitrah Belajarnya sudah lama beku.

Sementara ribuan Sarjana yang “ogah jadi kuli”, lalu membangun bisnisnya hanya dengan semangat wirusaha setinggi langit, namun gulung tikar dalam beberapa tahun. Bukan masalah kurang motivasi dan idea, namun fitrah bakat atau DNA Wirausahanya sudah lama menguap.

Lantas mengapa kita harus mengikuti sistem sosial yang merusak kemandirian dan kedewasaan seseorang?

Bukankah konsep Islam sangat sederhana, ketika bisa REPRODUKSI maka pastikan bisa BERPRODUKSI!

Maka MAGANG-kanlah anak kita sejak tamat SD , bahkan ketika sebelum tamat SD pada AHLInya yang sesuai BAKATnya.

Misalnya anak kita berbakat memasak atau membuat kue, jangan menunggu sampai masuk perguruan tinggi, itu terlalu lama. Ada ribuan restoran, ratusan klub kuliner yang dengan senang hati menerima anak kita magang, krn sangat membantu mereka dalam passion dan talent yang sama.

Lihatlah, bagaimana ULAMA Sumatera dahulu membangun tradisi pendidikan Islam dengan mewariskan SURAU dan RANTAU. Usia 7-8 sudah tidur di Surau, usia 12 dstnya sudah RANTAU.

Peninggalannya masih terlihat di Restoran PADANG. Anak anak Padang, magang di Resto Padang, dalam 3-4 tahun sudah punya Restoran sendiri.

Bukankah “MAGANG” atau Belajar Langsung pada Ahlinya (Maestro) ini adalah pendidikan peninggalan Rasulullah SAW dan para Nabi sepanjang sejarah?

Ingatkah kita bahwa Rasulullah SAW magang bersama pamannya berdagang ke Syams atau Syiria, sejak usia 11-12 tahun.

Magang adalah model pendidikan terbaik untuk mendalami Fitrah Bakat dan kemandirian, menularkan kehebatan, sehingga anak anak kita akan mencapai peran peradaban ketika usia aqilbaligh tiba.

Fitrah Bakat yang tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai tahapan menuju AQILBALIGH, akan memuluskan Fitrah Keimanan (Akhlak) dan Fitrah Belajar anak anak kita.

Andai jutaan anak anak kita difasilitasi magang sesuai fitrah bakatnya, pada usia 11-15 tahun secara masif, maka mereka akan mencapai peran peradabannya lebih tepat waktu dan lebih baik, sampah sampah kerusakan yang muncul sepanjang baligh mencapai aqil tidak perlu ada (Zero waste Generation).

Jika ini terjadi bukankah kebangkitan peradaban tinggal menghitung tahun?

Kalau sudah ada Sunnah nya, maka mendidik anak seperti ini bukanlah pilihan, tetapi kewajiban, sebagaimana bukan kemustahilan untuk mendidik generasi yang AQIL dan BALIGH nya tiba bersamaan.

Lalu mengapa kita masih membiarkan anak anak kita, generasi peradaban terbaik ini dibocahkan berkepanjangan?

Mengapa membiarkan anak anak kita dijajah sistem sosial, bahwa untuk menjadi Aqil harus selesai Sarjana?

Lalu mengapa para pendiri pendidikan masih gemar membangun Istana dan Kuil Pengetahuan yang tidak relevan menumbuhkan Fitrah Bakat anak-anak kita dan sama sekali tidak berniat merekonstruksi generasi Aqil dan Baligh?

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: