//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Renungan

Renungan Pendidikan #37

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Seorang sarjana ditanya, “mengapa menganggur?”, dia menjawab, “karena kemarin wisuda”.

Ooo… ternyata dia menganggur tepat sehari setelah selesai menuntut ilmu. Berapa banyak yang demikian? Sangat banyak.

Bahkan ada mahasiswa yang melambat lambatkan kesarjanaannya karena tidak berharap segera bekerja. Alasannya, semakin cepat lulus maka akan semakin cepat dituntut bekerja. Tepatnya mereka tidak siap mandiri secara sosial. Sebagian lagi menuntut ilmu setinggi tingginya lalu tidak pernah kembali lagi ke dunia nyata.

Lihatlah, umumnya skripsi atau tesis dari para sarjana ini adalah karya satu satunya dan terakhir sepanjang hidupnya. Kecuali yang menjadi akademisi, itupun karena umumnya tuntutan karir di kampus. Ternyata para mahasiswa atau “siswa besar” ini melakukan riset dan penelitian sekedar mendapatkan gelar dan ijasah. Berapa banyak yang demikian? Sangat banyak.

Berapa banyak sarjana teladan dengan IP memuaskan bahkan menjadi sarjana terbaik, kemudian memulai karirnya dengan bingung, bekerja asal kerja, diserap pabrik dan perusahaan konglomerat dsbnya lalu galau seumur hidupnya. Berbahagia setiap tiba hari jumat, karena esoknya libur. Dan berbahagia menjelang akhir bulan, karena segera mendapat upah. Sebagian besar hidupnya adalah penderitaan dan survive semata, walau bergaji besar.

Beberapa tahun berselang, seorang ibu yang sangat baik dan perhatian pada anaknya, membuat status di sosial media, tanpa merasa bersalah atau beban apapun, beliau menulis, “….syukurlah anak saya yang hafal alQuran, sekarang sudah lulus dari PTN. Mohon doanya agar segera diterima bekerja”.

Apakah kita tidak miris membacanya? Ada apa dengan fitrah belajar yang Allah karuniakan secara luar biasa, namun tidak berujung kepada peran peradaban yang memberi manfaat dan menebar rahmat? Menjadi hafidz dan mampu kuliah di PTN tentunya menjadi manusia yang tidak lagi mencari cari pekerjaan namun justru memberi banyak karya dan solusi bagi masyarakat.

Mungkin ini hanya satu kasus semata, namun sesngguhnya dengan mudah kita dapat melihat bahwa belajar apapun termasuk belajar agama, tanpa tumbuh fitrah belajar yang esensial yaitu melahirkan mental inovator yang relevan dengan realita sosial masyarakat, tanpa relevan fitrah belajarnya dengan fitrah bakat dstnya, maka hanya akan berujung sama, yaitu hanya menjadi beban dan budak peradaban.

Mengapa kita lebih suka membangun kuil kuil, menara menara dan istana pengetahuan yang tidak berbicara dengan masalah ummat, yang tidak relevan dengan problematika masyarakat sekitar, mencetak pendeta pendeta yang memisahkan diri dari realitas sosial peradabannya.

Inikah maksud dari Tholabul Ilmi? Inikah spirit peradaban belajar yang dimaksud Kitabullah, apabila hanya dimaknakan mengumpulkan ilmu dan pengetahuan sebanyak banyaknya lalu tidak tahu manfaatnya kecuali simbol simbol kesuksesan dan prestise sosial lalu ujung nya hanya menjadi beban peradaban?

Akankah kegemilangan peradaban akan lahir dari generasi yang dididik dengan ukuran kuantitatif pengetahuan seperti di atas? Jujurlah.

Seorang menulis dengan untaian indah, bahwa pengetahuan adalah bukan untuk dikuasai, namun untuk semakin menjadi diri. Pengetahuan ibarat cahaya di dalam ruang yang gelap, dimana kita hanya mampu melangkah pada pendar pendar cahaya itu menuju kesejatian diri kita.

Pendidikan atau Tarbiyah sesungguhnya adalah upaya menumbuhkan potensi fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah keimanan dan semua fitrah lainnya. Tujuannya adalah agar semua fitrah itu tumbuh paripurna menuju peran peradabannya sebagaimana telah Allah takdirkan dalam penciptaan fitrah itu.

Seorang ulama menulis, bahwa Allah lah sesungguhnya MuRobby (guru atau penumbuh) manusia, karena Allah swt adalah Robb Yang Menciptakan manusia menurut fitrahnya. Allah paling tahu tentang ciptaanNya. Karenanya siapapun yang mendapat amanah mendidik, wajib hukumnya memahami fitrah dan cara menumbuhkan fitrah fitrah itu.

Maka marilah kita tumbuhkan potensi fitrah belajar anak anak kita dengan banyak memberikan idea dan inspirasi, banyak memberinya kesempatan belajar mandiri, namun hati hati jangan sampai kita jadi dominan, juga hati hati jangan sampai tidak relevan dengan fitrah bakatnya dan fitrah lokalitas alamnya serta fitrah realitas sosial masyarakatnya.

Ujung daripada penumbuhan fitrah belajar ini bukanlah tumpukan ilmu di kepala, bukan tumpukan gelar dan titel, bukan pula “knowledge for knowledge”, bukan pula tumpukan penelitian yang tidak relevan apalagi tidak memberi manfaat dsbnya, namun akhir dari pendidikan fitrah belajar ini adalah generasi yang gairah inovasinya menebar rahmat dan manfaat bagi peradabannya.

Salam Pendidikan Peradaban

#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

#‎pendidikanberbasispotensi

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: