//
you're reading...
Kajian, Kemandirian, Pendidikan, Perubahan

Kemana Hasil Riset Kami Setelah Ini?

Oleh : Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar

Siswa juara Lomba Ilmiah Remaja : “Professor, sudah banyak karya remaja kreatif selama ini. Namun jadi apa? Apa hanya untuk dokumentasi lomba dan meraih hadiah?”

Professor menjawab:
Tidak hanya karya juara Lomba Ilmiah Remaja yang hanya mendarat jadi dokumentasi. Bahkan ribuan penemuan para Doktor kita hanya mendarat di jurnal ilmiah dan akhirnya ditaruh di perpustakaan.

Mengapa? Karena antara penelitian/penemuan dengan industri dan dengan bisnis, itu masing-masing ada gunung tinggi nan terjal.

Antara penemuan dengan industri, ada gunung bernama skala industri. Jangankan penemuan yang canggih. Ada kawan saya sekedar berinovasi sederhana, yaitu membuat kripik talas. Kripik itu renyah dan dikemas laksana snack kemasan di supermarket. Oleh pemdanya dia diunggulkan untuk dihadirkan pada pameran UMKM di SMESCO Jakarta. Standnya dikunjungi salah satu pengusaha papan atas, Sandiaga Uno. Beliau bertanya, “Wah ini inovasi baru. Rasa domestik kualitas ekspor. Bisa pesan 2 kontainer per bulan Mas?”

Waduh, 1 kontainer itu isinya mencapai 20 ton. Kalau 2 kontainer berarti 40 ton. Bahan baku talasnya bisa 50 ton. Kalau sebulan 50 ton, berarti setahun bisa 600 ton. Andaikata pohon talas itu bisa dipanen per 4 bulan, dan sehektar hanya menghasilkan 10 ton, atau 30 ton per tahun, maka diperlukan lahan sebesar 20 hektar. Ini baru untuk memenuhi pesanan Sandiaga Uno. Selain lahan juga nanti perlu petani plasma yang mau kerjasama, perlu pabrik yang bisa mengolah minimal 2 ton per hari, perlu karyawan pabrik, perlu dukungan investor dan perbankan, perlu perijinan dari Dinas Perindustrian, sertifikasi makanan dari Badan POM, dan sertifikasi halal dari LPPOM-MUI. Gunung seterjal ini yang kadang membuat para peneliti/penemu mundur.

Apalagi kalau nanti produk tadi dituntut bisa kompetitif. Dalam 20 tahun terakhir ini banyak perusahaan raksasa kelas dunia yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing secara global, atau karena ada tekanan politik yang melahirkan regulasi yang kemudian menghambatnya. Inilah gunung bernama globalisasi kapitalisme. Faktanya itulah yang terjadi di negeri kita. Yang menguasai tambang-tambang emas atau mineral di negeri ini adalah asing, sekalipun seluruh insinyurnya adalah pribumi.

Karena itulah, seorang akademisi atau ilmuwan wajib punya wawasan di atas dunia akademik. Dia mesti berpikir setidaknya hingga beberapa level di atasnya. Kalau mau menjadikan penemuannya dipakai secara luas, dia harus berpikir inovatif agar penemuannya masuk skala industri. Kemudian agar masyarakat mau memakainya secara sukarela, dia harus berpikir inspiratif. Kemudian agar dunia politik juga kondusif, dia harus berpikir integratif seperti para negarawan. Lalu agar negeri tempat dia berkiprah tidak terus dijajah produk asing, dia harus berpikir independence, seperti para pejuang kemerdekaan.
Lebih dari itu, dia harus berpikir bagaimana agar penemuannya itu bisa berguna secara unversal, diterima di seluruh dunia. Inilah berpikir ideologis. Di atas itu, dia ingin agar produknya itu makin mendekatkan dirinya dan penggunanya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Inilah berpikir ideologis
Siapkah anda wahai ilmuwan dan peneliti?

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

2 thoughts on “Kemana Hasil Riset Kami Setelah Ini?

  1. Menurut saya dunia akademik dan riset sudah berat. Tidak perlu menuntut mereka untuk berpikir politik, ekonomi, dan industri yang pelik. Yang perlu dituntut adalah adanya pihak yang mau bersinergi dengan peneliti dan ilmuwan. Kalau yang ideologi saya setuju.

    Posted by yogisaputro | April 15, 2015, 7:47 PM
  2. Betul, setuju sekali. Sinergi itulah yang belum terlihat sebagai bentuk apresiasi karya – hasil riset anak bangsa. Kita butuh peneliti atau ilmuwan yang selalu berpikir inovatif, kita butuh juga masyarakat yang dengan sukarela menerima hasil inovasi dan kita butuh juga para pemegang kekuasaan atau politisi untuk menciptakan kondisi negara yang kondusif yang memicu para ilmuwan untuk melahirkan karya karya inovatif dan solutif bagi negeri ini.

    Posted by ekoharsono | April 17, 2015, 2:45 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: