//
you're reading...
Human being, Life style, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan

Berhutang Budi pada Negara

Budi Santosa Purwo
Dosen TI – ITS
April 14, 2015 at 4:19am

Sekitar 30 tahun lalu, pembaca Kompas dibuat terhenyak menyimak surat seorang ibu tentang anaknya. Surat itu dimuat di Rubrik Konsutasi Psikologi Kompas Minggu. Rubrik yang diasuh oleh Leiia Ch Budiman, seorang psikolg (istri Arif Budiman, aktivis dari UKSW Salatiga yang kemudian pindah ke Melbourne Uni). Koran minggu, terutama Kompas memang salah satu bacaan menarik bagi keluarga atau mahasiswa di akhir pekan. Era dimana belum ada internet, siaran TV masih terbatas, belum ada gadget atau smartphone.

Diceritakan bahwa anaknya yang pinter dan dikuliahkan di ITB akhirnya memilih jadi dosen di almamaternya itu. Tidak sesuai harapan orang tua. Orang tuanya shock. Dia tidak habis pikir dengan pilihan anaknya. Bagaimana mungkin anaknya yang pinter itu memilih profesi dengan gaji yang tidak seberapa. Bagaimana mungkin dia bisa merelakan anaknya memilih profesi dosen yang gajinya lebih rendah dari karyawan di kantornya yang hanya lulusan SMA. Si ibu sangat emosional dan terlihat sangat mengandalkan sisi material sebagai aspek dominan memilih pekerjaan. Si anak beralasan “saya merasa berhutang budi pada negara yang telah memberikan pendidikan sehingga dia menjadi pintar”. Begitu kurang lebihnya. Untuk itu dia memilih profesi dosen untuk membalas hutang budinya.

Setelah surat itu dimuat di rubrik tadi, beberapa minggu kemudian banyak respon dari para pembaca. Saat itu belum jamannya media online. Koran benar-benar menjadi sumber informasi dan bacaan yang menyenangkan dan penting. Komputer juga sangat jarang. Pembaca menanggapi surat tersebut dengan menulis tangan atau mengetik lalu mengirimkannya lewat pos. Dapat diduga banyak orang tua memuji dan mendukung langkah ‘aneh’ si anak. Mereka menyarankan agar ibu tersebut merelakan piihan si anak bahkan mestinya bangga. Karena di jaman sekarang (30 tahun lalu) masih ada anak yang mempunyai nasionalisme seperi itu. diantara sekian tanggapan pembaca, seorang dosen senior juga ikut memberikan tanggapan panjang lebar yang dimuat di rubrik yang sama kemudian. Dia bercerita bahwa dia memilih jalan yang sama sebelumnya dan dia tidak menyesal sedikit pun. Bahkan masa-masa indah dalam hidupnya dirasakan bersama pasangan dan keluarganya ketika sekolah ke luar negeri. Dan itu dia dapat karena memilih profesi dosen di ITB. Suatu cerita yang rasanya cukup memberikan gambaran tepat nasib seorang dosen di PTN besar.

Begitulah singkat cerita. Kisah tersebut saya tulis lagi agar bisa dibaca. Anak yang (maaf) warga keturunan itu bisa membuat orang tuanya shock karena pilihan hidupnya yang tidak populer di kalangan keluarga dan mungkin teman orangtuanya. Anak hasil didikan kampus ITB itu bisa mempunyai pilihan yang idealis , benar-benar murni bukan arahan orang tuanya. Orientasi si anak bukan mainstream. Pasti banyak orang berpikir bahwa kalau dia memilih menjadi dosen di ITB hidupnya tidak susah-susah amat. Namun melihat respon orangtuanya, mestinya kesempatan hidup lebih enak akan bisa didapat kalua dia kerja menertukan usaha orag tuanya atau memiih perusahaan multinasional.

Begitu hebatnya pengaruh atmosfir pendidikan luar kelas. Orientasi si anak yang nasionalis itu kemungkinan bukan dipengaruhi materi ajar atau cerita dosen di kelas saja. Pasti lebih banyak pengaruh kegiatan kemahasiswaan, gaya hidup di kampus, pembinaan mahasiswa, dinamika kampus yang lain.

Di sisi lain nasionalisme muncul dalam bentuknya yang nyata pada diri anak muda. Tentu tidak harus menjadi dosen. Banyak pilihan lain. Masih adakah anak muda kini punya idealisme seperti dia? Jaman globalisasi dimana batas negara mulai samar tetap membutuhkan nasionalis sejat yang peduli pada nasib bangsanya yang masih sangat butuh perbaikan hidup, bukan lebih peduli pada nasib orang atau bangsa lain di bumi lain atau peduli nasib kelompoknya saja.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: