//
you're reading...
Lingkungan, Review

Kuba, Paradoks Politik dan Lingkungan

Budi Santosa Purwo
Dosen TI ITS

April 13, 2015 at 8:27am

Akhirnya berlangsung pertemuan dua pemimpin negara yang puluhan tahun berseteru, Obama dan Raul castro dari Kuba di Panama pada 11/4/2015. Pertemuan yang bersejarah. Sejak 1960 an AS memutuskan untuk mengembargo Kuba lalu putus hubungan diplomatik. Kudeta Fidel Castro terhadap diktator Kuba Fulgencio Batista lah yang membuat AS memutuskan hubungan tsb. Karena Batista didukung AS. Kuba dibawah Fidel Castro makin kukuh menjalankan komunisme. Ia pun menjadi diktator sebelum akhirnya diganti adiknya. Pertemuan ini akankah mengubah Kuba?

Kuba disisi lain menjadi salah satu negara paling sustainable di dunia dari sisi lingkungan. Rejim politik komunisme memaksa orang untuk tunduk pada negara, tidak ada kebebasan individu. Tidak ada kerakusan untuk mengejar sesuatu sebebasnya seperti di negara kapitalis. Dilaporkan pada tahun 2014 secara ekologis, bumi telah mengalami defisit secara lingkungan. ini berarti manusia di planet bumi memakai sumberdaya alam melebihi kapasitas bumi untuk berkembang lagi. ECological performance Index (EPI), secara kasar bisa dihitung dengan jumlah sumberdaya lingkungan yang tersedia dibagi dengan jumlah konsumsi seluruh permintaan yang berhubungan dengan manusia. Diperkirakan 86% penduduk bumi tinggal di tempat dengan permintaan melebihi yang bisa didukung oleh ekosistemnya. Menurut Global Footprint Network, jika setiap orang hidup dengan gaya hidup orang Amerika, maka dibutuhkan 4 planet bumi untuk menghidupinya. Sungguh cara hidup yang boros! Rakyat di belahan bumi lain hidup dengan irit untuk mensubsidi silang.

Karena adanya embargo sejak 1960, Kuba harus berjuang untuk dirinya sendiri mengembangkan arsitektur berkelanjutan (sustainable) dan pertanian, yang dimulai pada awal 90-an. Negara itu mengesahkan undang-undang yang memulai proses panjang yang didedikasikan untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Kuba adalah satu-satunya negara di dunia yang dinilai sebagai memiliki pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pada tahun 2006 oleh laporan World Wildlife Fund Living Planet. Itu karena Kuba memenuhi dua kriteria yang mendasari Indeks Pembangunan Manusia(Human development index) dan Ecological Footprint.Seperti dilaporkan Carbon Pig.

Manajemen pemerintah yang efektif dan gigih terhadap sumber daya alam selama bertahun-tahun telah membawa Kuba pada statusnya saat ini sebagai salah satu negara yang paling berkelanjutan secara ekologis di dunia. Kuba juga merupakan rumah bagi pemenang Goldman Prize Humberto Rios Labrada, seorang ilmuwan dan peneliti keanekaragaman hayati yang bekerja dengan petani untuk meningkatkan keanekaragaman tanaman dan mengembangkan sistem pertanian rendah-input (low-input agricultural system) yang menggeser ketergantungan Kuba pada penggunaan bahan-bahan kimia menuju keberlanjutan.

Manajemen yang efektif dimungkinkan karena sistem sosialisme/komunisme nya. Bagi negara demokrasi kadang pengambilan keputusan terlalu lama dan sering disibukkan dengan kegaduhan politik dan pembicaraan berakhir pada bagi-bagi kekuasaan atau roti pembangunan. Pembatasan individu juga membuat penggunaan sumberdaya alam tidak tak terbatas. Di negara kapitalis , pemilik modal pada batas tertentu bisa memiliki apa saja di tengah anggota masyarakat lain yang kekurangan bahkan untuk kebutuhan dasarnya. Tidak heran sat perusahaan bisa menguasai 1/5 lahan perkebunan di Indonesia. satu orang memiliki puluhan rumah mewah dan mobil. Satu sisi buruk kapitalisme, yaitu kerakusan individu tidak ada batasnya. Di negara komunis, kebebasan terbatas namun sisi baiknya kerakusan yang menghabiskan sumberdaya alam bisa dibatasi.

Seorang penulis barat mencatat kembalinya marxixme ke negara asalnya. Ia menceritakan bagaimana China yang mengadopsi marxisme ternyata lebih liberal dari negara-negara Eropa dalam hal ekonomi. pembangunan ekonomi China telah membawa dampak lingkungan yang luar biasa. Jerman negara asal marxisme memag lebih sosialis dibanding China. Tunjagan kesehatan di jerman tercatat lebih baik dibanding China. begitupun di Perancis sistem kesehatan nasionalnya masuk yang terbaik di dunia. marxisme telah pulang dari China ke Jerman, negara asal Karl Max.

Maka tidak heran ketika ada cerita beberapa orang Indonesia makan di sebuah restoran di Jerman ditegur oleh kustomer lain di retoran itu. Orang Indonesia memesan terlalu banyak makanan daripada yang bisa mereka habiskan. Orang Indonesia merasa tidak ada yang salah karena mereka mampu membayar dengan uangnya. Bagi orang Jerman tersebut, masalahnya bukan cuma soal uang tetapi orang Indonsia memakai sumberdaya alam dengan berlebihan dan akhirnya dibuang. Bagian itu mestinya bisa dimanfaatkan orang lain dimuka bumi ini. Kerakusan biasa dipraktekkan di negara kapitalis atau negara lain yang mengaku religius tapi justru lebih kapitalis dari negara-negara Eropa yang kita anggap kapitalis. Kerakusan itulah yang menghabiskan kapasitas sumber daya alam.

Semoga Kuba bisa mempertahankan cara mereka mengelola sumberdaya alam dan lingkungannya. Negara lain bisa nggak mengikuti cara kelolal sumberdaya alam agar tetap sustain?

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: