//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Belajar : Sebuah Dimensi Baru

Belajar: sebuah dimensi baru

Lukito Edi Nugroho
April 13, 2015

Dalam beberapa kesempatan diskusi di kampus, saya sering mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa ada cukup banyak mahasiswa yang sebenarnya belum cukup siap untuk menjadi mahasiswa. Banyak contoh yang diberikan, dari mulai cara berkomunikasi yang dirasa kurang sopan, kurangnya tanggung jawab personal, sampai kurangnya kematangan pribadi sebagai manusia dewasa.

Analisis yang muncul adalah para mahasiswa tersebut kurang mampu menyesuaikan diri dalam menjalani perubahan kultur yang mereka alami: dari kehidupan masa remaja di SMA ke tahap memasuki masa dewasa saat menjalani kuliah. Ketidakmampuan beradaptasi tersebut bertambah parah saat perguruan tinggi hanya berfokus pada urusan akademik saja. Perguruan tinggi hanya mementingkan indeks prestasi, kelulusan tepat waktu, atau prestasi-prestasi kognitif lainnya, tetapi abai terhadap perkembangan jiwa mahasiswa. Akibatnya mahasiswa kemudian memasuki dunia baru pendidikan tinggi dengan bekal yang mereka miliki, tanpa ada bimbingan dari institusi tempat mereka belajar. Yang punya bekal cukup akan selamat, dan bahkan semakin bersinar karena tertempa oleh keadaan. Yang tidak siap akan gelagapan, timbul tenggelam, dan jika tidak mendapatkan pertolongan, mereka akan benar-benar terkubur.

Fenomena tersebut di atas tentu saja tidak berdiri sendiri. Jika mau jujur, bukan hanya mahasiswa yang dilanda ketidakmampuan beradaptasi. Dosen dan pengelola perguruan tinggipun demikian. Dosen tidak mampu melihat perkembangan keilmuan yang pesat dan paradigma tentang pembelajaran mahasiswa yang berubah. Pengelola perguruan tinggi juga gagal memahami pergeseran-pergeseran prinsip pengelolaan institusi pendidikan tinggi, sehingga tetap menjalankan manajemen perguruan tinggi seperti 10-20 tahun yang lalu.

Kegagapan-kegagapan tersebut membuat kita perlu belajar, dan kita perlu mendefinisikan ulang pemahaman kita tentang belajar. Belajar bukan hanya secara formal di institusi pendidikan, tetapi juga dalam tujuan beradaptasi dengan perubahan. Sayangnya yang terakhir ini jauh lebih sulit dijalankan…

Mengapa lebih sulit? Setidaknya karena dua hal. Pertama, perubahan yang memicu kebutuhan beradaptasi itu tidak mudah dilihat, karena kita selalu menjadi bagian dari perubahan tersebut. Melihat dari dalam itu jauh lebih sulit daripada melihat dari luar.

Tantangan untuk bisa “melihat ke dalam” itu berat karena sering kali seseorang merasa baik-baik saja dengan keadaannya sekarang. “Saya sudah profesor doktor, sudah lebih dari 30 tahun menjadi dosen, dan mahasiswa juga happy dengan cara saya mengajar. Mengapa saya harus mengubahnya?”, begitu mungkin pikiran seorang dosen senior. Cara berpikir mahasiswa mungkin lebih pragmatis,”IP kumulatif saya selalu lebih dari 3. Studi saya lancar, orang tua juga tidak pernah mempersoalkan. Mengapa saya harus beradaptasi? Beradaptasi terhadap apa?”. Cara pandang pejabat perguruan tinggi juga sama,”Mengapa saya harus repot mengurusi karakter dan kemampuan soft skill mahasiswa, toh selama ini mereka baik-baik saja?

Mungkin mereka baru akan sadar setelah si mahasiswa pandai tersebut setelah lulus ternyata tidak kunjung mendapatkan pekerjaan karena pengetahuan yang diajarkan oleh dosennya ternyata sudah ketinggalan jaman, tingkat kedewasaannya kurang, dan dia tidak paham tentang bagaimana cara berkomunikasi, dan memromosikan dirinya dengan baik. Dan saat semua pihak sadar, nasi sudah menjadi bubur…

Untuk bisa belajar beradaptasi selalu diperlukan kerendahan hati. Tiada orang lain yang bisa membuka hati, kecuali sang pemiliknya. Sebuah gelas hanya akan bisa terisi air jika pemilik gelas membuka tutupnya. Sayangnya, tidak semua pemilik bersedia dan sanggup membuka tutup gelasnya. PR selanjutnya, jika gelas itu ternyata sudah berisi sisa minuman semalam, sisa itu harus dibuang untuk digantikan dengan air yang baru. Maukah pemilik gelas melakukannya?

Belajar seolah menemukan dimensi baru. Kita belajar bukan sekedar menjalankan ritual-ritual akademik, tetapi lebih mendasar lagi, bagaimana kita bersedia untuk membuka mata hati dan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi, lalu bertanya pada diri sendiri,”Bagaimana aku dapat merespon perubahan-perubahan tersebut dengan baik?”. Belajar dalam pengertian kontemporer semacam ini berlaku untuk semua orang, memotong semua struktur dan status yang ada. Dari rektor sampai karyawan, dari profesor doktor sampai mahasiswa, semua terkena “kewajiban” ini. Belajar seperti ini juga tidak terikat pada waktu. Selama hayat dikandung badan, kewajiban ini tidak akan gugur.

Salah satu cara untuk mengatasi kesulitan “melihat ke dalam” adalah dengan menarik mundur timeline kehidupan. Tarik sampai jauh ke belakang, lalu lakukan perjalanan menyusuri timeline itu menuju ke masa kini. Secara obyektif, amatilah perubahan-perubahan yang terjadi selama perjalanan tersebut. Dua puluh tahun lalu kondisinya seperti apa, sepuluh tahun lalu seperti apa, dan seterusnya, sampai akhirnya sekarang seperti apa (bagi mahasiswa timelinenya tentu lebih pendek, tapi esensinya tetap sama). Mungkin tidak bisa menggali 100%, tapi setidaknya ada perbedaan yang bisa dibandingkan. Dari perbandingan inilah perubahan-perubahan itu bisa diidentifikasi.

Belajar beradaptasi itu (hampir) selalu meminta si pembelajar untuk membongkar cara pandangnya yang lama. Istilahnya: melakukan “unlearn”. Mengapa harus dibongkar? Karena cara pandang itu tidak sesuai lagi dengan perubahan yang terjadi. Air sisa di dalam gelas harus dibuang dulu sebelum air yang baru diisikan ke dalamnya. Ini jelas tidak mudah, karena pembongkaran ini sering terkait dengan nilai (values) dan keyakinan (belief). Tiga puluh tahun lalu, “berjualan” ilmu itu dianggap haram oleh sebagian dosen, tapi sekarang justru academic entrepreneurship menjadi salah satu pilar penting dalam kehidupan perguruan tinggi. Jelas tidak mudah bagi dosen yang mengharamkan berjualan ilmu untuk dapat menerima konsep academic entrepreneurship, tapi unlearn semacam ini harus dilakukan jika ingin survive. Cara pandang dan keyakinan lama harus diganti dengan yang baru dan yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini.

Perguruan tinggi punya peran sebagai ujung tombak dalam perubahan-perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Peran ini hanya bisa berjalan dengan baik jika semua elemennya mampu belajar dengan baik. Bukan hanya belajar secara formal, tapi juga belajar dalam dimensi yang lebih mendasar: beradaptasi dengan perubahan jaman. Menurut saya, inilah tantangan besar pendidikan tinggi saat ini.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: