//
you're reading...
Human being, Motivasi, Perubahan

Beyond Average

Eileen Rachman
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 11 Apri 2015

Ketika membahas kriteria penerimaan karyawan di sebuah perusahaan kelas regional, yang mana organisasi pastinya berusaha mendapatkan calon terbaik dengan kritera yang dibutuhkan, timbul kekhawatiran di antara panitia bahwa bilamana penetapan kriteria kelolosan ditetapkan terlalu tinggi maka calon yang didapatkan akan sangat terbatas. Kita semua tahu bahwa kelompok ‘average’ selalu merupakan jumlah terbesar dari suatu populasi. Dengan demikian kitapun bisa mengaggap bahwa 66,23 % individu diseputar kita pastinya tergolong ‘average’. Namun untuk penerimaan karyawan , masuk sekolah, dan seleksi lainnya, lembaga-lembaga tentunya tetap ingin memilih golongan ‘above average’, yang nyatanya hanya berjumlah 16% dari populasi bilamana memang dimungkinkan. Potongan kue ini pun, masih harus dibagi ke lembaga-lembaga lain yang saling berlomba untuk mendapat calon terbaik. Benar juga , dalam ajang pemilihan calon karyawan , bisa terjadi seperti yang diungkapkan Tyler Cowen dalam bukunya, :”the average is over!”. Hanya yang terbaik saja yang bisa mendapatkan kesempatan nomor satu. Lalu bagaimana dengan individu yang banyak ini? Apa salahnya menjadi salah satu diantara populasi terbanyak?

Tuntutan jaman

Di masa lalu, pekerja dengan ketrampilan rata-rata, akan mengerjakan pekerjaan orang ‘kebanyakan’ dan akan hidup secara rata-rata juga. Tukang kayu, tukang besi, tukang reparasi, tukang jahit, yang berprestasi sedang sedang saja, akan mendapat cukup pelanggan, dan akan berpenghasilan pas-pasan juga. Namun sekarang, persaingan sudah tidak menjamin keadaan yang adem ayem seperti itu. Penjahit yang top akan dibanjiri jahitan , tetapi yang sedang sedang saja akan menderita. Tengok penjual gudeg di Jogjakarta yang berderet menjual makanan yang sama. Yang sangat laku, biasanya akan kewalahan melayani membludaknya jumlah pembeli, bahkan antrian semakin mengular karena pembeli akan tertarik kepada tempat yang ramai meskipun itu berarti mereka harus menunggu lama. Sementara tetangganya yang berjualan barang yang sama bisa mengipas-ngipas kebosanan menunggu pengunjung.

Semua lembaga dan perusahaan, mempunyai kekuatan untuk memilih, bahkan menggantikan manusia dengan mesin, tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja regional. Kita, yang berada di kelompok menengah ini perlu mencari taktik juga agar kontribusi tetap bermakna. Walaupun tergolong rata-rata, kita tidak bisa tidak menonjol. Kita tetap perlu terlihat. Kita tidak bisa menyalahkan keadaan. Kuda pun sudah tergantikan oleh mobil. Berarti cepat atau lambat teknologi juga akan menggantikan kinerja manusia, bila kita tidak pandai pandai mencari celah agar tetap ‘menarik’ dan berdaya jual. Dan juga, menurut Einstein : “You can’t solve a problem on the same level that it was created. You have to rise above it to the next level.”

Rata rata plus

Bisakah kita mengalah pada keadaan dan menerima bahkan menyerahkan nasib kita tanpa kekuatan untuk menentukan masa depan? Apakah kita yang mempunyai bakat rata- rata, tidak bisa hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi, cara pikir , dan inovasi baru? Bukankan seorang yang masuk golongan manula , masih bisa belajar mandiri menguasai teknologi di ponsel barunya? New economy, yang berprinsip ‘yang murah yang berkuasa’ tentunya akan mencari tenaga murah dan mesin murah , bahkan kalau bisa barter, atau ‘outsource’.

Di manakah letak keunggulan manusia yang tidak tergantikan. Bukankah sebuah mesin tidak bisa memberi ‘service plus’ , bersikap tulus dan penolong? Bukankah ini saatnya menjual ‘budaya’ untuk pariwisata, yang sama sekali tidak bisa diganti dengan robot? Pada dasarnya yang tidak pernah bisa tersaingi adalah kontrak sosial, berbasis kultural, di mana, motivasi memegang peranan penting. Begitu kita bermental ‘budak’, kita langsung tidak mempunyai inisiatif. Padahal , insiatif bukan dominasi orang orang yang ‘above average’ saja. Behaviour science tidak bisa diinterpretasikan dengan mesin, apalagi di ‘copy’. Sementara otak yang sesederhana apapun, masih lebih besar dari komputer secanggih apapun, dan tetap menjadi penterjemah terbaik dari perilaku manusia. Semakin kita menguasai perilaku kita, mempunyai kebiasaan positif, disiplin yang kuat, kita langsung menjadi si rata-rata plus. Kita perlu sekali tahu bagaimana menjaga motivasi dan menjaga ketrampilan kita untuk mengoperasikan hal – hal di sekitar kita, baik teknologi maupun lingkungan sosial. Kita perlu memikirkan ‘self learning’ yang intensif , untuk diri kita sendiri. Mengapa ada yang bisa melakukan posisi yoga yang sulit dan ada yang tidak. Bukankan hal itu tidak berhubungan dengan potensi , apalagi kecerdasan? Kita perlu tetap meyakini, bahwa semuanya adalah pilihan kembali pada diri kita sendiri. Apakah kita menjadi orang yang terlatih sampai trampil atau mau tetap menjadi rata-rata. Apakah secara sosial kultural kita maju atau berjalan di tempat. Apakah kita mau menjadi pendengar, penyerap, pencerap yang tajam , atau menjadi si rata – rata yang lamban?

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: