//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Renungan

Renungan Pendidikan #35

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Memang memboarding atau meng-asrama-kan anak yang belum berusia aqilbaligh, ada landasan syariah dan ilmiahnya?

Banyak riset modern yang meneliti anak anak yang berpisah dari orangtuanya sejak dini diantara usia 3-13 tahun, menemukan bahwa pemisahan ini memicu kesedihan dan kecemasan mendalam (anxiety), ketidakpercayaan pada hubungan dekat atau memiliki masalah kelekatan (attachment), luka kejiwaan (psychology damage), ketidakpekaan, penolakan (avoidance), masalah elitisme dstnya.

Prinsip dibalik munculnya teori kelekatan ini adalah kebutuhan akan perasaan aman sebagai bagian dari fitrah manusia. Perasaan aman yang dihasilkan dari kelekatan yang positif (secure attachment) memiliki hubungan erat dengan kemampuan untuk mengembangkan kreatifitas dan eksplorasi (menguasai lingkungan).

Attachment atau kelekatan bukanlah kebutuhan anak yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan anak lebih cepat, tetapi merupakan kebutuhan yang terpendam sepanjang hidup manusia.

Hasil interpretasi pengalaman secara terus-menerus dan interaksi seseorang anak dengan figur lekatnya terutama ayah ibunya, akan membentuk pensikapan (internal working model).

Dijumpai bahwa anak anak yang merasa secure aman dan nyaman bersama kedua orangtuanya sejak dini sampai usia 13-14 tahun atau aqilbaligh, maka selama masa anak anaknya itu akan memiliki emosi positif, mandiri, ceria, memilih orangtuanya daripada orang asing dstnya.

Lalu ketika mereka dewasa akan lebih mudah menjalin hubungan yang panjang dan penuh kepercayaan, nyaman berbagi dengan banyak orang, memiliki kepercayaan diri (self esteem dan self efifacy) yang tinggi, mudah mencari dukungan sosial dstnya.

Begitupula sebaliknya,seorang psikoterapis Nick Duffell, mengatakan: ‘Selamat’ memboarding, karena secara kolektif anak boarding school paling sering menunjukkan gaya avoidant (penolakan kedekatan positif), melihat diri mereka seolah mandiri, kebal terhadap perasaan keterikatan dan tidak membutuhkan hubungan dekat. Seringkali mereka menekan perasaan mereka, menutupi penolakan dengan menjauhkan diri dari mitra atau merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional atau fisik.

Sebagai catatan, Nick Duffell adalah seorang psikoterapi bagi mantan asrama selama 25 tahun dan juga seorang mantan guru sekolah asrama yang pernah diasramakan.

Joy Schaverien, dalam makalahnya ‘Boarding School: The Trauma of the Privileged Child’, dia mengklaim telah mengidentifikasi sesuatu yang disebut dengan Boarding School Syndrome, yaitu disfungsi emosional yang berasal terutama dari trauma pemisahan awal seseorang dari orang tua, yang memanifestasikan dirinya dalam masalah kedekatan hubungan di kemudian hari.

Schaverien mengatakan bahwa orang tua telah membangkrutkan dirinya dengan mengasramakan anaknya ke sekolah ketika anak anak mereka sesungguhnya hanya bocah. Ini adalah beban yang berat bagi anak.

Hal itu seperti mengirim anak ke perawatan. Memang di asrama ada selimut di tempat tidur dan anak anak diizinkan memilki boneka beruang tapi itu tidak menjadi pembenaran bahwa anak-anak harus meninggalkan ibu mereka, sebagai kelekatan utama mereka, karena anak anak itu pada dasarnya masih bocah semata.

Lalu mengapa banyak orangtua berbondong bondong mengirim anaknya bahkan sejak sekolah dasar untuk diboarding?
Sepuluh alasan terbesar memboarding anak diantaranya adalah fasilitas yang mewah, elitisme sosial, persaingan dan yang utama umumnya membangun benteng perlindungan terhadap anak anak dari lingkungan alias sterilisasi. Lantas apakah alasan alasan ini bisa dibenarkan secara syar’i?

Inggris adalah negara tertua yang menerapkan konsep Boarding School sejak dua ratus tahun lalu, telah menyesali model sekolah ini. Bangsawan di Inggris sejak lama sering mengirim anak anak mereka sejak usia 7 tahun untuk diboarding.

Hasil Boarding Schoolnya adalah kelas elite pemimpin yang tidak peka sosial dan sensitif pada masalah rakyatnya karena mereka mengembangakan budaya elitisme, tidak menghargai wanita karena pernah ditinggalkan ibunya, menolak relasi sosial yang saling percaya karena kepercayaan sudah lama hilang, suka menjajah sebagai akibat budaya senioritas dan bullying, serta menghindari kerjasama terbuka dan kolaborasi, menghindari perasaan perasaan jujur yang alamiah karena mereka selalu diawasi, malu jika terlihat bodoh, tidak boleh salah dstnya.

Mempertanyakan konsep boarding bukan berarti menolak konsep Surau, konsep Pesantren dan berbagai model pendidikan Islam tempo dulu.

Namun ingat bahwa pendidikan Islam tempo dulu hanya memboarding atau mengasramakan anak anak yang sudah mencapai aqilbaligh atau setidaknya menjelang aqilbaligh, namun tidak untuk anak anak yang sama sekali masih jauh dari aqilbaligh.

Sebenarnya untuk anak yang belum aqilbaligh, Islam mengenal konsep HomeStay, yaitu menitipkan anak pada keluarga sholeh dengan sosok ayah dan ibu yang utuh.

Mari kita tengok sirah. Rasululullah saw pernah mengalami HomeStay pada usia 0-7 tahun di Bani Sa’diah. Sebuah keluarga di desa yang “fitrahnya masih bersih” dimana sosok ayah dan bunda lengkap mendampingi.

Pendidikan dengan sosok ayah ibu di keluarga inilah yang memastikan interaksi “bahasa ibu” sampai fasih, cinta dan lekat, mengkonstruksi imaji imaji positif dengan belajar dan beraktifitas gerak di alam (muscle memory), melatih fisik di desa berudara yang segar dengan mendaki bukit, menguatkan kepemimpinan dan kepekaan sosial (executive functioning dan mental driver) dengan menggembala kambing, dan terakhir adalah menghaluskan budi dengan kearifan dan adab dasar.

Setelah masa itu, Rasulullah saw kembali tinggal bersama keluarga besarnya sampai aqilbalighnya. Sebagai yatim, maka sosok ayah diwakili oleh kedekatan beliau dengan paman dan kakeknya sebagai pengganti sosok ayahnya. Selama masa itu usia 11-15 Rasulullah sering magang berdagang bersama pamannya.

Karena beliau juga piatu, maka sosok ibu diwakili oleh ibu asuhnya (Ummu Aiman) yang dianggap setara ibunya oleh beliau, ”Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku (wafat).”. Jadi sama sekali bukan sosok pembantu atau khadimat.

Renungkanlah sirah Nabi saw, apakah kita tidak juga memahami bahwa setidaknya sosok Ayah Bunda harus selalu ada sepanjang usia anak-anaknya sampai mencapai usia 14-15 tahun atau usia aqilbaligh?

Fitrah anak anak kita akan tumbuh subur bersamaan dengan kedekatan dan kelekatan anak-anak kita kepada kita, orangtuanya, sepanjang masa sebelum aqilbaligh.

Lihatlah kasus penyimpangan perilaku dan kejiwaan anak anak dan pemuda adalah karena ketidak dekatan mereka dengan orangtuanya saat berusia 0-14 tahun. Anak anak yang mengalami masalah perilaku dan penyimpangan seksual sampai bunuh diri adalah anak anak yang tidak memiliki kelekatan dengan orangtuanya atau hilangnya sosok ayah ibunya sejak berusia dini sampai masa masa kritis menjelang aqil baligh.

Setelah pemaparan riset dan sirah di atas semoga kita segera menyadari bahwa kelekatan anak dan orangtua akan menentukan perkembangan kejiwaannya dan pensikapannya dalam kehidupannya kelak. Jika masih ragu, tanyakanlah fitrah kita, nurani kita sebagai orangtua terhadap hal ini.

Janganlah karena alasan alasan yang tidak syar’i apalagi sudah terbukti buruk secara penelitian, maka anak kita yang belum aqilbaligh diasramakan atau dikirim ke boarding school, sungguh terlalu besar resikonya bagi pertumbuhan fitrahnya.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: