//
you're reading...
Lingkungan, Pendidikan, Renungan

Renungan Pendidikan #34

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Bukti bahwa bukan kita, orangtua, yang menciptakan anak2 kita, adalah bahwa kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya tujuan dan maksud khusus penciptaan anak anak kita. Kita tidak pernah tahu apa peran peradaban mereka kelak ketika dewasa. Kita sama sekali tidak punya gambaran misi spesifik penciptaan apa yang sesuai bagi anak anak kita di muka bumi.

Kita, orangtuanya, hanyalah menerima amanah untuk menemani dan merawat fitrah anak anak kita agar anak kita tumbuh sesuai maksud penciptaannya. Itu saja. Maka tetaplah atas Fitrah Allah, tiada yang berubah dari fitrah Allah. Jadi tidak perlu lebay dan juga sampai lalai.

Maka tidak ada lagi yang dirisaukan dan ditakutkan serta membuat panik, obsesif dan tergesa menjejalkan berbagai hal kepada anak anak kita, karena mustahil Allah menciptakan khalifah di muka bumi tanpa dibekali potensi potensi atau benih benih yang akan menjadi tujuan penciptaannya. Benih inilah yang kita sebut dengan fitrah.

Maka didiklah anak anak kita dengan cara menyentuh dan berinteraksi dengan fitrahnya secara halus dan lembut, penuh cinta dan kehati2an serta ketelatenan sehingga tidak melukai dan menciderai sedikitpun fitrahnya.

Sesungguhnya mendidik adalah cara ideal berinteraksi dengan fitrah anak anak kita, yaitu dengan keteladanan, penyadaran secara halus tanpa tergesa kepada mengajarkan, menjejalkan, mencetak dsbnya karena fitrahnya telah sesuai dengan agama yang lurus, fitrahnya telah memiliki prinsip pokok pengetahuan dan nalar yang positif, fitrahnya telah memiliki sifat bawaan yang produktif, fitrahnya akan tumbuh indah pada tiap tahapan usianya.

Misalnya mulailah menginspirasi anak kita untuk menyukai buku dengan membacakan buku inspiratif sebelum mengajarkannya membaca. Maka jika anak kita sudah suka belajar, dia akan belajar sendiri atau minta diajarkan, itu pertanda fitrah belajarnya tumbuh.

Mendidik bahkan bukan upaya mengIslamkan fitrahnya, karena fitrahnya sudah Islam. Karenanya mulailah dengan membangkitkan cinta pada Kitabullah sebelum membaca dan menghafalkan Kitabullah. Mulailah membangun imaji imaji positif tentang amal amal sholeh di hadapan anak anak kita dengan keteladanan dan perilaku yang indah.

Misalnya sambutlah azan dengan wajah yang riang dan cerah, sholatlah dengan semangat dan senyum terkembang di bibir, bersedekahlah dan berkebunlah dengan antusias dan riang gembira. Tidak perlu banyak pengajaran dan pemaksaan, perbanyaklah penginspirasian dan penyadaran.

Teruslah menumbuhkan dan merawat fitrah anak anak kita dengan rileks, optimis dan konsisten sampai mereka mencapai aqilbaligh, dan siap memikul semua tanggungjawab atas peran peradabannya. Itulah mengapa sosok ayahbunda, kedua orangtuanya, harus hadir sepanjang usia anak anak nya hingga mencapai aqilbaligh.

Usia AqilBaligh adalah usia sinnu taklif, yaitu masa masa pembebanan syariah, suatu beban yang memberatkan siapapun kecuali mereka yang telah suka dan ridha pada Allah swt, suka dan ridha pada RasulNya dan Islam. Mereka yang suka dan ridha atas beban ini adalah mereka yang fitrah keimanannya telah tumbuh dan terawat dengan baik.

Usia AqilBaligh adalah usia dimana peran peradaban dimulai, yaitu misi spesifik khalifah di muka bumi. Peran yang berat, yang ditolak langit dan bumi, kecuali manusia yang suka dan ridha dengan fitrah belajarnya untuk bernalar dan berinovasi memakmurkan bumi.

Peran yang tidak diberikan kepada Jin dan Malaikat, kecuali kepada manusia yang suka dan ridha dengan potensi fitrah bakatnya untuk mengambil peran kepemimpinan atas orang orang bertaqwa.

Mereka yang suka dan ridha atas beban dan peran di atas adalah mereka yang fitrah keimanan, fitrah belajar dan fitrah bakatnya telah tumbuh dan terawat dengan baik, sesuai fitrah perkembangannya.

Sesungguhnya Murobby (pendidik – penumbuh dan perawat fitrah) bagi anak kita sejatinya adalah Allah swt, karena Allah adalah Robb, yaitu Pencipta yang paling tahu fitrah yang telah diciptakan dalam diri anak anak kita. Oleh karenanya seorang pendidik, siapapun juga hendaknya mendidik sejalan dengan fitrah yang telah Allah ciptakan itu.

Maka semua upaya mendidik anak anak kita adalah upaya menumbuhkan dan merawat fitrah. Maka semua upaya merubah adalah upaya perubahan untuk kembali kepada fitrah. Maka tetaplah atas Fitrah Allah, Tiada perubahan atas fitrah Allah

Maka jadikanlah rumah rumah kita dapur untuk kembali kepada fitrah, jadikanlah rumah rumah kita dapur peradaban, tempat dimana ikhtiar peradaban dimulai bersama dimulainya pensucian fitrah kita dan anak anak kita.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: