//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Renungan

Renungan Pendidikan #33

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Sepanjang upaya kita menumbuhkan dan merawat fitrah anak anak kita, sesungguhnya kita berhadapan dengan berbagai aliran pemikiran atau filsafat yang menolak adanya fitrah manusia. Aliran pemikiran ini bagi kebanyakan orang sudah menjadi agama barunya dan bahkan menjadi sistem sosial.

Memang sebaiknya kita tidak usah peduli apa kata filsuf barat yang sesat itu, kita asik dan sibuk saja mensyukuri, menumbuhkan dan merawat fitrah anak anak kita. Kita tidak memerlukan perdebatan dan diskusi yang menjadi debat mubazir.

Namun dalam tataran sosial kita harus menerima tantangan, keterpaksaan menerima atau ketidakberanian menolak sistem dari para pengekor dan pengikut filsuf tersebut yang sudah nyaris mengglobal dalam praktek pendidikannya di masyarakat.

Bahkan tanpa sadar, banyak juga diantara kita yang ambigu, satu sisi meyakini fitrah anak2nya sementara sisi lain melakukan praktek yang tanpa sadar merusak fitrah anak anaknya.

Cara pandang sesat pertama adalah bahwa Manusia hanya seonggok Materi. Ini pandangan yang umum dianut oleh para filsuf sesat itu, mereka berasumsi bahwa manusia adalah makhluk “materi”, makhluk yang setara dengan machine, money, method, materials yang kita kenal dengan 5M di bangku sekolah maupun di dunia kerja.

Konsep “anak tuhan” di beberapa agama menambah kesesatan keyakinan para filsuf sesat ini bahwa manusia tidak punya fitrah tentang ketuhanan, manusia hanya membuat ilusi tentang Tuhan yang sebenarnya Tuhan itu khayalan pada eksistensi dirinya yang lain yang ujungnya berwujud manusia juga, materi juga.

Karena manusia dianggap seonggok “materi”, maka dunia pendidikan umumnya menganggap manusia bisa dicetak, dibentuk semaunya. Ketika manusia dianggap materi maka hilanglah nilai dan fitrah kemanusiaannya. Jika nilai nilai kemanusiaan tidak ada maka kemudian Tuhan sebenarnya tidak eksis.

Layaknya tukang kayu yang membuat meja dan bangku dimana kayu adalah materi nya. Dalam pandangan tukang kayu, unsur kayu hanyalah bahan yang tidak perlu dipedulikan jika harus diserut, dipotong, dibelah dsbnya demi sebuah tujuan membuat meja dan bangku.

Banyak pendidik, atau sekolah, baik sadar maupun tidak, masih beranggapan demikian. Mereka berfikir bahwa manusia dapat dicetak semau dan sesuka mereka dengan cetakan cetakan yang sudah distandarkan. Tidak peduli apakah ada fitrah anak yang harus dipotong, dirusak bahkan dibuang.

Jika mereka beriman dan mengakui dan meyakini fitrah bakat atau fitrah potensi keunikan pada manusia, seharusnya pendekatan pendidikannya bukan seperti tukang kayu, tetapi seperti tukang taman.

Ya tukang taman yang merawat benih bunga dengan sangat hati hati, meletakkan benih di media tanam yang sesuai, menumbuhkannya dengan shabar dan telaten sesuai jenis bunganya, rileks dan konsisten karena meyakini potensi benih yang ada, lalu merawatnya sehingga mencapai tahap pertumbuhannya dengan sempurna.

Cara pandang sesat kedua adalah bahwa manusia makhluk yang penuh ketidaktahuan dan kelemahan. Pandangan ini sebagai konsekuensi logis dari memandang manusia sebagai seonggok materi. Pandangan ini menduga bahwa manusia serba tidak tahu dan serba lemah, sehingga manusia harus dijejalkan banyak pengetahuan dan dikuatkan banyak hal.

Darwinisme menambah kesesatan dengan menghubungkan manusia sebagai kera yang “kebetulan” beradaptasi dan lalu bermutasi menjadi lebih cerdas. Jargon the survival of fittest, seolah menjadi fatwa bahwa “kera pintar” ini harus berusaha cerdas agar mampu bersaing.

Cara pandang ini secara filosofis bahkan menolak adanya agama, karena agama, menurut mereka lahir dari kebodohan dan kelemahan juga ketakutan manusia. Bahkan mohon maaf, pandangan ini, ketika masuk ke dalam sistem pendidikan membuat para pendidik menganggap keimanan adalah sesuatu yang harus dijejalkan dalam bentuk materi.

Semua filsafat atheisme barat disandarkan pada pandangan ini, sejak Hegel, Russel, Durkheim, Spencer sampai kepada Marxis dalam dimensi individual dan sosial. Ketika manusia sudah pandai, kuat dan berani maka menurut asumsi mereka, agama dan Tuhan tidak diperlukan lagi.

Penjejalan banyak hal termasuk pengetahuan ditujukan agar manusia “pandai”, kuat dan mampu bersaing dstnya berangkat dari pendekatan ini. Kompetisi, ujian saringan dan sebagainya demi keunggulan dikonstruksikan dari filosofis sesat ini.

Layaknya peternak, yang memelihara ternak. Dalam pandangan peternak, ternak diberi makan sebanyak banyaknya, kalau perlu dikebiri agar lekas gemuk dengan tujuan dimasukkan ke rumah rumah pemotongan hewan untuk “disembelih” dan “dijagal”,

Berapa banyak pendidik, atau sekolah, baik sadar maupun tidak, masih beranggapan demikian. Mereka berfikir bahwa manusia agar unggul harus dijejalkan bermacam hal.

Tabiat kurikulum sekolah adalah selalu kurang, selalu meminta jam tambahan dari setengah hari menjadi sepenuh hari, selalu meminta materi tambahan dan subyek pelajaran baru

Mereka membuat rumus, 10000 jam kerja keras plus keberuntungan sama dengan sukses. Metode drill dari penganut behaviorisme berangkat dari pendekatan ini. Berapa banyak anak anak kita yang menguasai banyak pengetahuan namun tidak relevan dan manfaat dengan dirinya.

Jika mereka beriman dan mengakui dan meyakini fitrah belajar dan fitrah nalar pada manusia, seharusnya pendekatan pendidikannya bukan seperti peternak, tetapi seperti petani.

Ya petani yang merawat benih tanaman dengan sangat hati hati, meletakkan benih di media tanam yang sesuai, menumbuhkannya dengan shabar dan telaten, rileks dan konsisten, sehingga mencapai tahap pertumbuhannya dengan sempurna sesuai keunikannya.

Hari ini para pemuja filsuf sesat itu sangat menyadari kekeliruan pandangannya, para pengikutnya mulai mereformasi sistem pendidikannya, walau mereka tidak tahu namanya, mereka mulai membangun pendidikan yang menghargai dan menumbuhkan fitrah anak anak didiknya.

Finlandia adalah contoh sukses pendidikan yang menghargai dan menumbuhkan fitrah belajar siswanya, para gurunya tidak lagi melakukan penjejalan namun penyadaran dan pembangkitan fitrah belajar anak anaknya. More learning than teaching. Inside Out bukan Outside In. Padahal ini baru satu fitrah, sudah sedemikian baik di dunia, apalagi seluruh fitrah yang ditumbuhkan.

Celakanya, hari ini, di negeri Muslim, justru model pendidikan kita masih melanjutkan kesesatan pendidikan mereka, yang meniru kesesatan para filsuf mereka tempo dulu. Bahkan semakin fanatis kesesatannya.

Mari kita revolusi pendidikan kita, mengembalikannya kepada pendidikan yang memerdekakan dan menumbuhkan benih fitrah dan akhlak anak anak kita, karena merekalah generasi peradaban yang akan memerdekakan peradaban ummat manusia

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: