//
you're reading...
Human being, Motivasi, Opinian, Perubahan

Membaca Gerakan Mahasiswa : Gerakan Mahasiswa Butuh Big Bang (Part III – Habis)

Adriano Rusfi
April 2, 2015 at 8:15pm

Tiga jam lagi akan masuk waktu Shubuh. Dan berarti diskusi ini harus segera diakhiri, dan saya akan dijemput untuk memberikan kuliah Shubuh di sebuah masjid. Maka saya harus mengajukan pertanyaan to the point :

“Jadi, secara teknis kapan saatnya mahasiswa bergerak ?”

“Nggak tahu, Bang. Sebenarnya mahasiswa itu sangat plural dan terpecah, baik secara ideologis, politis maupun orientasi hidup. Tak mudah menghimpun, menyatukan dan menggerakkannya”

Jawaban itu begitu menohok dan menyadarkan saya tentang realita dunia mahasiswa. Ya, betapa beragamnya mereka : ada akademis, pragmatis, idealis, humanis, sosialis, agamis, politis, ekonomis, hobbyis, oportunis, ekstremis dan sebagainya. Lalu masing-masing terpecah lagi ke dalam faksi-faksi yang lebih kecil lagi. Bahkan, paduan dari beberapa ragam itu akan melahirkan kombinasi-kombinasi baru : ada akademis-pragmatis-agamis, idealis-humanis-sosialis, dan seterusnya. Duh…

Jadi, mustahil merekayasa gerakan mahasiswa untuk menjadi sebuah gerakan massa berskala besar. Makanya, kalau ada yang mengatakan bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan yang mudah untuk ditunggangi, kemungkinannya adalah : Pertama, dia tak pernah menjadi mahasiswa; Kedua, dia tak pernah jadi aktivis mahasiswa; Ketiga, yang dia amati hanyalah aksi mahasiswa berskala kecil; Keempat, dia adalah seorang yang pro status quo dan pecinta kemapanan.

Lihatlah gerakan mahasiswa yang beraksi pada tahun 1998. Di Jakarta saja ada LMND, FKSMJ, Forkot, Famred, KB UI, KAMMI, Formasi, Komrad, Forbes, Jarkot, HMI dsb. Mereka bukan saja berbeda, bahkan diantara mereka ada yang berseberangan. Mereka mustahil bersatu, karena yang mungkin adalah bersepakat. Tak mungkin menyamakan motif mereka, karena yang bisa dilakukan hanyalah menyamakan kepentingan mereka. Mereka hanya bersepakat dan sekepentingan untuk menjatuhkan rejim Soeharto. Sedangkan sisanya adalah saling berbeda.

“Jadi, mahasiswa butuh sebuah big bang, dentuman besar, untuk menghasilkan sebuah gerakan yang masif, Bang”, jelas seorang mahasiswa di penghujung malam itu

Betul… betul… Alhasil, sebenarnya tak ada yang perlu ditakutkan oleh para penguasa terhadap gerakan mahasiswa. Yang perlu penguasa lakukan adalah : jangan menciptakan sebuah big bang yang mampu menghimpun keragaman mahasiswa, sehingga menjadi air bah pergerakan yang mustahil terbendung. Dan dentuman besar itu berasal dari jeritan lirih di dalam hati rakyat dan do’a-do’a kaum yang dianiaya oleh penguasanya, karena keluhan mereka hanya dijawab penguasa dengan retorika.

“Tapi, tak takutkah kalian dengan moncong bedil tentara ?”, tanya saya menguji nyali mereka

“Takut… sangat takut, Bang. Tapi para senior kami telah mengajarkan kami, bahwa TNI selamanya adalah tentara rakyat, dengan doktrin Hankamrata. Bahkan, sebelum kami para mahasiswa mendengarkan jeritan rakyat, tentara telah lebih dulu mendengarnya. Entah kenapa, kegelisahan kami adalah kegelisahan tentara.”

“Makanya, Bang, kalau gerakan mahasiswa bukan gerakan nurani rakyat, tapi ditunggangi kepentingan tertentu, maka kami akan menjadi sasaran empuk peluru tentara. Tapi, kalau gerakan kami adalah gerakan nurani, jangan pernah takut-takuti kami dengan hadangan TNI. Dari dulu mereka selalu bersama kami”

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: