//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Renungan

Renungan Pendidikan #31

Harry Santosa – Millenial Learning Center

“Di antara tanda keberhasilan di Akhir adalah kembali kepada Allah di Awal”,

Begitu seorang ulama abad ke13, Syaikh Ibn Atha’illah Al-Iskandari – menulis dalam Kitab Al-Hikam atau The Book of Wisdom. Sebuah masterpiece beliau yang banyak menjadi rujukan sejak abad 13 sampai saat ini.

Sebuah nasehat yang teramat indah dari seorang ulama besar.

Dalam perspektif Pendidikan nasehat ini menyadarkan kita bahwa jika ingin berhasil mendidik anak anak kita dengan baik pada akhirnya, maka mulailah dengan kembali kepada Fitrah Allah pada awalnya. Back to Fitrah, for the Best Future. Iedul Fitrah adalah awal kemenangan.

Sesungguhnya Fitrah yang lurus adalah selangkah menuju keimanan walau bukan seorang Muslim, sedangkan Fitrah yang menyimpang adalah selangkah menuju kekafiran walau seorang Muslim.

“…orang yang fitrahnya masih lurus atau hanif, jika bertemu atau memandang Rasulullah saw, maka dia akan beriman”

Maka beragama yang baik dan benar sangat terkait dengan Fitrah yang lurus, bagitupula pendidikan yang baik dan benar sangat terkait dengan pendidikan yang berbasis kepada membangkitkan potensi Fitrah yang Allah karuniakan kepada kita dan anak anak Kita.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Allah. (Tetaplah atas) Fitrah ALLAH yang menjadikan (menciptakan) manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan ALLAH (itulah) Agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Rum : 30)

Namun, akuilah secara jujur bahwa berbagai penyimpangan perilaku dari generasi ke generasi sepanjang sejarah termasuk generasi kita dan generasi anak anak kita adalah pendidikan generasi yang gagal menjaga dan menumbuhkan fitrah anak anak kita bahkan cenderung merusaknya.

Sungguh banyak orangtua yang tidak yakin akan adanya fitrah pada dirinya dan pada anak-anaknya. Tidak yakin bhw setiap anaknya memiliki fitrah keimanan yang akan membawanya kepada nurani kebenaran dan akhlakul karimah. Tidak yakin bahwa setiap anaknya memiliki fitrah belajar yang akan membawanya menjadi innovator pemakmur bumi. Tidak yakin bahwa tiap anaknya punya fitrah bakat yang akan membawanya pada peran spesifik peradaban. Tidak yakin bahwa tiap anaknya memiliki fitrah perkembangan dimana tiap tahapnya adalah emas bila sesuai cara dan tujuannya

Semua ketidakyakinan itu bermuara kepada hilangnya rasa optimis, pudarnya ketenangan, keberanian dan optimisme dalam mendidik anak2nya. Mereka selalu pesimis, tidak konsisten, tidak percaya diri, panik, sibuk membangun bendungan, sibuk menjejalkan anak anaknya dengan ribuan buku pengetahuan termasuk agama, sibuk memasukan anak anaknya di kuil dan menara keunggulan dan keshalehan sebelum masa aqilbaligh tiba.

Penyebabnya adalah INFERIOR COMPLEX, merasa sebagai peradaban yang kalah perang, merasa takut karena meyakini musuh-musuh lebih hebat digdaya dari pada Allah dan fitrah Allah.

Sementara realitanya ummat Islam miskin dan lemah, maka paranoid kolektif ini menstrukturkan model pendidikan serba takut seperti bangsa kera, yang bersembunyi di balik benteng benteng kokoh yg tinggi.

Pantas saja banyak yang lebih suka memboarding dan menitipkan anak anaknya pada lembaga, itu semua karena ketidakyakinan kita bahwa ada begitu banyak hikmah yang Allah tanamkan pada diri setiap anak dan diri setiap orangtua untuk mendidik.

Pantas saja banyak keluarga yang bercerai, hari ini tingkat perceraian mencapai 36 kasus perjam. Itu karena tidak adanya aktifitas mendidik di dalam rumah, itu karena keimanan dan keyakinan untuk mendidik potensi fitrah anak-anaknya tidak ada lagi di rumah-rumah mereka.

Memang butuh keimanan yg kuat, keyakinan yang paripurna bahwa tiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Butuh keyakinan mendalam bahwa semua potensi fitrah sdh “well-installed” dalam diri anak anak kita, semua sudah Allah letakkan dengan kokoh dan sempurna.

Sungguh kita tidak memerlukan well-schooling, sistem persekolahan yang menjejalkan “outside-in” anak anak kita, seolah mereka kera bodoh yang harus diajarkan dan dijejalkan semua hal, tidak.

Tidak sadarkah kita bahwa fitrah belajar anak kita hilang karena mereka belajar dengan motivasi juara atau ujian? Tidak sadarkah kita bahwa fitrah bakat anak kita hilang karena bakat mereka tidak pernah dikenal apalagi dihargai dan dikembangkan? Tidak sadarkah kita bahwa fitrah keimanan anak kita hilang karena kesadaran keimanan berganti menjadi nilai pelajaran agama? Tidak sadarkah kita bahwa fitrah perkembangan anak kita terhambat karena jauhnya jarak dewasa biologis kepada dewasa psikologis?

Sesungguhnya kita hanya perlu merancang pendidikan terbaik utk membangkitkan “inside-out” potensi fitrah ini, sehingga lahir generasi yang well-educated yang tercerahkan. Anak kita hanya memerlukan keteladanan tulus yg menginspirasi, kesempatan luas yg membangun tanggungjawab dan percaya diri, kedekatan penuh cinta yg menguatkan jiwa, imaji dan nalarnya.

Jika tidak kita rancang maka akan banyak lahir anak anak yg “well-schooled” namun tidak tercerahkan dan tidak mendapat hidayah serta tidak terselamatkan, seperti hari ini.

Maka renungkanlah, jika kita tidak yakin dengan potensi fitrah yg ada pada anak anak kita dan diri kita sebagai orangtua lalu akuilah dengan modal keyakinan dan keberanian apa kita menerima amanah mendidik mereka? Lalu apa yang kita bawa menghadap Allah kelak?

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: