//
you're reading...
Human being, Kajian, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan, Review

Pendidikan Karakter dan Islamisasi Sains

Pendidikan Karakter dan Islamisasi Sains [1]

Usep Mohamad Ishaq[2]

Source : http://pimpin.or.id/2015/03/23/pendidikan-karakter-dan-islamisasi-sains/

Istilah “Pendidikan Karakter” begitu banyak diperbincangkan akhir-akhir ini, melihat kenyataan bahwa pendidikan ternyata belum mampu menghasilkan sebuah generasi yang baik dan manusia yang beradab. Tapi apakah pendidikan karakter merupakan tanggung jawab para guru dan dosen saja? Jawabannya sudah pasti tidak, karena interaksi siswa dan mahasiswa dengan para pendidik di institusi pendidikan hanya terbatas pada jumlah jam mata pelajaran. Karenanya pendidikan karakter hakikatnya tanggung jawab semua pihak: orang tua, keluarga, masyarakat dan institusi pendidikan. Tapi apa sesungguhnya pendidikan karakter? Dan bagaimana pandangan Islām tentang isu tersebut?

Secara bahasa etika (ethos) atau “karakter” berarti:

 

The mental and moral qualities distinctive to an individual. Strength and originality in a personʾs nature. a personʾs good reputation.[3]

(sifat mental dan moral yang tersendiri bagi seseorang. Kekuatan dan sifat asli seseorang. Reputasi baik seseorang.

Istilah karakter sendiri berasal dari bahasa Latin caractere berarti simbol, huruf, tanda pengenal, tabiat. Melalui definisi tersebut karakter dapat diartikan sebagai “kualitas moral dan mental yang ditandakan dalam perilaku seseorang atau sebuah kumpulan orang-orang atau masyarakat”. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku yang nampak dari seseorang adalah (seharusnya) simbol yang menunjukkan kualitas mental yang ada di dalam dirinya. Tetapi mengambil makna “karakter” melalui pendekatan bahasa saja tidak memadai untuk memahami apa sebenarnya maksud “karakter” dalam pendidikan karakter. Karena itu kita perlu melihat bagaimana istilah “pendidikan karakter” ini muncul dalam sejarahnya.

Membincangkan apa itu pendidikan karakter berarti mendefinisikan apa itu “karakter”, dan mendefinisikan “karakter” haruslah menerima kenyataan bahwa tidak ada tafsir yang disepakati tentangnya, karena ia akan bergantung pada banyak sekali variabel dan faktor, seperti: ideologi, agama, filsafat, bangsa, budaya, lingkungan social, politik, dan lain-lain. Akan tetapi kita bisa dapat sepakat dalam satu hal yakni bahwa pendidikan karakter adalah suatu hal yang penting. Islām memiliki tafsirannya sendiri tentang karakter atau konsep yang berkaitan dengan karakter, demikian berbagai agama lainnya. Seorang nasionalis memiliki pandangannya sendiri tentang karakter, demikian juga seorang penganut liberal, marxsis, humanis, dan lain sebagainya. Karenanya penting untuk pertama-tama menegaskan kerangka apa yang akan digunakan dalam membincangkan pendidikan karakter tersebut.

Istilah “pendidikan karakter” merupakan terjemah literal dari “character education” yang tentu saja mendapatkan akarnya dalam sejarah pendidikan di Barat. Misalnya James Barclay (1713-1765) seorang pemikir dan praktisi pendidikan pada masa Pencerahan Eropa, ia telah menekankan pentingnya keteladanan dalam pendidikan serta melakukan pemilihan guru berdasarkan karakternya sebagai keteladan bagi anak didiknya.[4] Demikian juga salah satu tokoh Pencerahan John Locke meyakini bahwa pembentukan karakter lebih penting dari pencapaian intelektual.[5]

Pada tahun 1816 Robert Owen seorang pegiat pendidikan, pemikir masalah sosial, industrialis dan juga ateis mendirikan suatu lembaga pendidikan bernama “Institution for Formation of Character”. Dalam lembaga tersebut anak-anak usia sekolah diberi pengajaran pada siang hari sedangkan yang lebih dewasa pada malam hari. Ia meyakini pentingnya pendidikan usia dini dan memandang bahwa anak-anak lebih baik dididik oleh profesional terlatih daripada orang tua yang bodoh. Orang tua yang bekerja pada pabrik yang ia miliki menitipkan anak-anaknya dalam lebaga tersebut. Dalam lembaga tersebut diajarkan kebiasaan-kebiasaan baik dan tidak memberikan gagasan tentang baik dan buruk sebelum umur dua tahun karena meyakini akan akibat yang tidak baik dalam pembentukan karakter di kemudian hari. Ia juga meyakini bahwa anak-anak sebelum umur 12 tahun tidak seharusnya membaca buku-buku dan murid yang lebih tua lebih baik menghadiri kelas daripada membaca buku sendiri. Tidak ada reward dan punishment dalam lembaga tersebut. Pendidikan agama tidak diberikan karena Owen sendiri adalah seorang ateis, namun ia hanya diberikan jika ada permintaan dari orang tua murid. Pada akhirnya sekolah tersebut akhirnya ditutup karena penentangan dari pihak agamawan gereja Skotlandia.[6]Inisiatif untuk mempromosikan pendidikan karakter Kristen sudah dijumpai pada 1844 dengan didirikannya Young Men’s Christian Association (YMCA) dengan tujuan : “menarik anak-anak muda pada Yesus Kristus, dan membangun mereka dengan Karakter Kristen”. Sekolah-sekolah di Inggris pada masa tersebut umumnya di bawah pengawasan sekte-sekte Kristen, namun berkembang ide untuk memisahkan agama dari pendidikan karakter seperti yang dicetuskan oleh Arthur Ackland (1847-1926) yang merupakan wakil presiden dari Committee of Council on Education pada masa Perdana Menteri Inggris William Gladstone (1809-1898). Pada 1886 sekolompok penganut agnostik mendirikan suatu lembaga bernama Ethical Union yang bertujuan mencari dasar sekular bagi moralitas. Mereka tertarik pada pendidikan karakter dan mendirikan Moral Instruction League pada 1897 yang mengkampanyekan kebijakan anti-agama dan mempromosikan reformasi moral melalui dewan legislatif. Tujuan mereka adalah membentuk dan menguatkan karakter anak didik dan membangun kecerdasan anak didik tanpa landasan agama apapun. Sir Robert Morant penyusun Undang-Undang bagi Perdana Menteri, pada 1905 mengeluarkan suatu panduan bagi guru dan pekerja pendidikan “Handbook of Suggestion for Consideration of Teachers and others concerned in the work of Public Elementary Schools” yang salah satu bagiannya menyatakan agar guru mendorong siswanya untuk memiliki karakter seperti : “tepat waktu”, “kerapian”, “kebersihan”, “kejujuran”, “penghormatan kepada orang lain” dan “ketaatan yang menyenangkan pada pekerjaan”. Karakter-karakter ini lebih dekat pada ajaran Yunani dari pada Kristen yang menunjukkan pendidikan karakter lebih pada etika dari pada relijius.[7]Padangan ini juga selaras dengan Comte, ia menyatakan bahwa pertumbuhan moral dan perkembangan siswa harus dilepaskan dari ajaran agama.[8]Di Perancis transisi dari pendidikan moral berdasarkan agama kepada pendidikan moral yang sekular terjadi pada masa menteri pendidikan yang juga Perdana Menteri Perancis ke-44 dan ke-49, Jules François Camille Ferry (1832-1893). Ia menyatakan bahwa pendidikan moral yang mengajarkan nilai, seperti “keadilan,” “persamaan,” “balas-budi,” “hak,” dan “rasa hormat”, adalah penting diberikan dengan cara yang halus tanpa dikaitkan dengan agama.[9] Francois Ferry juga yang memisahkan pendidikan dari kependetaan pada 1882 serta bertanggung jawab dalam menepikan pengaruh kalangan Jesuit dan Katolik dari sistem pendidikan negara maupun swasta melalui Artikel ke-7 nya.[10] Ia jugalah yang getol memperjuangkan pemisahan agama dengan negara.

Pendidikan karakter di Amerika Serikat pada hakikatnya berkait dengan akarnya di Eropa terutama di Perancis.[11] Pendidikan karakter tersebut menekankan penanaman nilai kesalehan, keadilan, penghargaan kepada kebenaran, cinta tanah air, kemanusiaan, kebaikan universal, ketenangan, sikap rajin, sikap hemat, kemurnian, kesederhanaan, pengendalian diri, dll. Selama akhir abad ke 18, program pendidikan karakter yang dilandasi oleh filosofi para penggagas pendidikan karakter di Amerika seperti Benjamin Franklin (1706-1790), Horace Mann (1796-1859), dan William McGuffey (1800-1873) mulai melepaskan agama sebagai landasan dari pendidikan moral.[12]Hingga saat ini tema pendidikan karakter masih menjadi isu hangat dikalangan para pendidik di luar maupun di dalam negeri.

Cuplikan sejarah pendidikan karakter di atas menunjukkan bahwa gagasan pendidikan karakter dalam masyarakat barat bertumpu pada etika yang terpisah dari agama, dan ditujukan untuk membentuk warga negara yang baik, yaitu yang memenuhi kriteria-kriteria etika yang sekular yang lepas dari standar akhlak agama. Singkatnya pendidikan karakter Barat adalah pendidikan untuk membentuk etika (ethos) warga negara untuk kemajuan bangsanya dan lepas dari nilai-nilai agama. Inilah yang secara jeli dilihat oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agama dari kehidupan (deconsecration of values), satu aspek lain dari sekularisasi.

Bagaimana Islām memandang pendidikan karakter? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah “karakter” didefinisikan sebagai:[13]

tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak.

Dari definisi di atas nampak bahwa istilah “karakter” telah dimaknai dengan “akhlak” yang merupakan pinjaman dari salah satu istilah dalam agama Islām. Imām al-Ghazālī mendefinisikan akhlāq sebagai:“sifat yang tertanam dalam diri manusia yang nampak dari perbuatannya, yang tidak memerlukan pertimbangan lama untuk melakukannya, atau dengan kata lain spontan.”[14]

الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة، عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر وروية

(Suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran).

Dengan demikian hakikat akhlāq atau akhlak itu adalah:

  1. Sifat yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya, karenanya perbuatan yang telah menjadi akhlak seseorang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran karena telah melekat padanya.
  2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan kepuran-puraan, kepalsuan atau bersandiwara sesuai dengan sifat yang ada di dalam dirinya.

Karena itu dalam pandangan Islām pendidikan karakter adalah pendidikan akhlak dan etika serta moralitas yang tidak dapat dilepaskan dari standar nilai agama.[15] Istilah “akhlak” itu sendiri merupakan istilah yang masih netral tanpa kecenderungan baik atau buruk sebelum diberikan sifat. Ia bisa bersifat baik atau buruk tergantung sifat yang tertanam dalam diri sesorang, karenanya dikenal akhlāq karīmah (akhlak mulia), akhlāq maḥmūdah (akhlak terpuji) atau ḥusnuʾl-khulūq (akhlak yang baik), sebaliknya dikenal pula akhlāq madhmūmah atau akhlak yang tercela. Akhlak yang baik dan mulia didasarkan pada kriteria yang diberikan oleh nilai Islām yaitu akhlak yang didasari niat yang ikhlāṣ dan didasarkan pada ukuran-ukuran yang Allāh subḥānahū wa taʿālā berikan melalui contoh manusia yang paling berakhlak mulia Baginda RasūluʾLlāh ṣallaʾLlāhu ʿalayhi wasallam. Baginda nabi sendiri diutus untuk menaikkan derajat akhlak yang baik ke derajat paling luhur, sebagaimana disebutkan dalam sebuah ḥadīth:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Aḥmad)

Dan pada ḥadīth lain disebutkan bahwa ukuran akhlak Baginda nabi adalah al-Qurʾān itu sendiri:

كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an” (HR. Muslim)

Di dalam al-Qur’ān, akhlak beliau disebut oleh Allāh subḥānahū wa taʿāla menjadi teladan dan berada pada tingkatan agung:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيم

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Jadi pendidikan karakter dalam pandangan Islām adalah pendidikan untuk membentuk manusia yang berakhlak sesuai tuntunan al-Qurʿān dan contoh yang diberikan nabi Muḥammad ṣallallāhu ʿalayhi wasallam. Dalam hal inilah Islām mengungguli Barat dalam wacana pendidikan karakter, bukan saja dalam hal konsep namun juga dalam masalah keteladanan yang ideal. Islām memiliki living role model, seorang teladan yang hidup di mana perilakunya dapat dijadikan contoh bagi setiap jender, posisi, umur, bangsa, status sosial, dan lain-lain. Pada titik inilah Barat tidak dapat menunjukkan dengan jelas siapakah manusia berkarakter ideal yang dapat dicontoh itu?

Bagaimana negara memandang pendidikan karakter? Apabila kita merujuk pada UU Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, maka definisi dari pendidikan adalah:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara

Berdasarkan definisi umum di atas maka salah satu tujuan dari pendidikan adalah membentuk akhlak mulia yang merupakan terjemah literal dari istilah al-akhlāq al-karīmah, maka salah satu aspek dari pendidikan adalah pendidikan akhlaq itu sendiri. Karena itu bagi seorang muslim, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari padangan-alam Islām, dalam bidang apa saja pendidikan tersebut dimaksud, termasuk Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni, Olahraga, Bahasa, dan sebagainya harus ditujukan salah satunya untuk membentuk akhlaq mulia. Dengan kerangka-kerja (framework) seperti ini, sains Islām dan islamisasi sains modern, bagi seorang muslim, memperoleh tempatnya dalam pendidikan di Indonesia.

Sains Islām dan islamisasi sains modern dalam kaitannya dengan pendidikan karakter sangat relevan dan penting, karena tujuan pendidikan karakter hanya akan tercapai jika semua bidang pendidikan berkelindan dan bersinergi, termasuk di dalamnya pendidikan sains dan sains itu sendiri. Ia harus menemukan perannya dalam membentuk karakter dan akhlaq, yang tidak mungkin tercapai tanpa didasarkan pada filosofi yang jelas dan memadai. Bagi seorang muslim, jelas bahwa sains dan pendidikan sains dalam kaitannya dengan pendidikan karakter harus dilandasi berdasarkan pandangan-alam Islām dan dalam kerangka-kerja Islām.

Sains menjadi tidak bermanfaat apabila ia diajarkan sekadar untuk membuat anak didik menjadi seorang saintis, padahal pada kenyataannya tidak semua siswa bercita-cita menjadi saintis dan akan menjadi saintis. Sains hanya betul-betul akan menjadi bermanfaat bagi para siswa jika ia diajarkan untuk membentuk akhlaq, karakter, kepribadian, dan cara berpikir. Bahkan pada dasarnya setiap mata pelajaran adalah demikian adanya. Untuk membentuk karakter melalui sains, siswa tidak boleh lagi hanya dijejali dengan fakta dan data saintifik atau disibukkan hanya dengan menghafal rumus-rumus matematis. Lalu, bagaimana pendidikan karakter melalui sains dapat dilakukan? Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membentuk cara pandang Islām meliputi pembenahan konsep ilmu dalam Islām, pandangan Islām terhadap alam semesta, konsep Tuhan dalam Islām, pandangan Islām terhadap hakikat manusia, konsep pendidikan Islām, sejarah peradaban Islām, selain mata kuliah-mata kuliah mendasar yang diperlukan dalam sains seperti kalkulus, fisika dasar, kimia dasar dan lain-lain. Langkah kedua, penanaman akhlak dan adab hanya efektif jika disertai perilaku dan contoh dari para pendidik, tidak hanya dalam kode etik dalam buku panduan. Rusaknya akhlak bukan ketiadaan panduan etika dalam buku, namun ketiadaan contoh tingkah laku. Setiap waktu dan kesempatan berinteraksi dengan peserta didik, tiada lain merupakan kesempatan untuk menanamkan pendidikan akhlak dan adab. Baik dalam lingkungan lembaga pendidikan maupun dalam lingkungan informal, seorang pendidik memahami benar kesempatan itu untuk menunjukkan bagaimana seharusnya berperilaku yang beradab, bercakap-cakap yang beradab, bertelefon yang beradab, menuliskan pesan singkat yang beradab, dan lain-lain. Hal ini bukan hal-hal yang remeh jika ia tahu bahwa pendidikan bukan saja masalah kognitif.

Pendidik bertanggung jawab mengajarkan untuk berbicara benar, berpikir benar, berlaku benar, berakhlak mulia dalam memperlakukan peserta didik dan sesama pendidiknya. Ia berkewajiban mengajak dan memberi contoh untuk bersegera dalam shalat, di samping kewajibannya mengajarkan sains di dalam kelas atau di laboratorium. Para ʿUlamā‘ telah banyak menyusun karya tentang adab-adab untuk para pendidik dan peserta didik.[16] Karya-karya tersebut dapat diadopsi dan disesuaikan dalam pendidikan sains. Imām al-Ghazāli raḥimahuʾLlāh misalnya dalam ‘iḥyā‘ ʿUlumiddīn menyebutkan adab pendidik atau pengajar diantaranya:

  1. Memiliki rasa kasih sayang dan memperlakukan mereka sebagaimana anak sendiri.
  2. Mengajar karena Allāh dan tidak menyakiti hati murid jika ia tidak bisa memenuhi keinginannya.
  3. Memberikan saran dan mengarahkan muridnya (tidak membiarkan muridnya).
  4. Mencegah murid berperangai jahat.
  5. Tidak melecehkan pelajaran lain dan sesama pengajar di depan murid-muridnya
  6. Meringkaskan pelajaran sesuai dengan kemampuan murid.
  7. Memberikan pelajaran sesuai dengan taraf berpikirnya.
  8. Mengamalkan ilmunya, sehingga apa yang dikatakannya sesuai dengan perbuatannya

Ketiga, untuk memenuhi konsep keadilan dan adab dalam ilmu, komposisi kurikulum harus diubah menyesuaikan konsep ilmufarḍ ʿayn dan farḍ kifāyah, sebagai cerminan dari konsep manusia itu sendiri. Syed Muhammad Naquib al-Attas telah memberikan gambaran ilustratif mengenai hal ini dalam bukunya Islām dan Sekularisme yang dapat kita lihat dalam ilustrasi berikut:[17]

gambar

Ilustrasi yang dibuat oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menggambarkan konsep diri, konsep ilmu, dan konsep pendidikan yang menunjukkan kesatupaduan.
(Courtesy: PIMPIN BANDUNG)

Pada ilustrasi di atas terdapat keterkaitan antara konsep hakikat manusia, ilmu dan pendidikan. Kurikulum pendidikan harus mencerminkan komposisi dari farḍ ʿayn dan farḍ kifāyah. Menurut al-Attas, ilmu farḍ ʿayn dan farḍ kifāyah bukanlah konsep yang statis, namun menyesuaikan dengan potensi diri dengan keperluan ummat secara keseluruhan. Ilmu dan pendidikan merupakan sarana yang mengantarkan untuk memenuhi aspek jasmaniah dan ruhaniah, juga bagian-bagian manusia seperti ʿaql, rūḥ, nafs, dan qalb, sehingga dengannya akan terbentuk saintis yang beradab pada dirinya, manusia lain, alam semesta dan Tuhannya. Tanpa pemahaman terhadap konsep manusia, konsep sains, konsep keilmuan secara umum, dan konsep yang berkaitan dengan hal yang metafisik, maka pendidikan tidak mungkin membentuk saintis yang berkarakter, berakhlak, dan beradab. Tanpa pendidikan karakter tidak ada kemajuan yang akan dicapai, di mana kemajuan yang dimaksud dalam hal ini bukan terbatas pada model kemajuan Barat yang bersifat material, namun kemajuan dalam bentuk manusia yang baik, saintis yang baik serta keluhuran akhlaknya. Mohammad Natsir Allāhu yarham pernah menuliskan[18]:

Ialah bahwa kemunduran dan kemajuan itu tidak bergantung pada ketimuran dan kebaratan, tidak bergantung pada putih, kuning atau hitamnya warna kulit, tetapi bergantung pada ada atau tidaknya, sifat-sifat dan bibit-bibit kesanggupan dalam salah satu umat, yang menjadikan mereka layak atau tidaknya menduduki tempat yang mulia di atas dunia ini. Dan ada atau tidaknya sifat-sifat dan kesanggupan (kapasitas) ini bergantung pada didikan ruhani dan jasmani, yang mereka terima untuk mencapai yang demikian.

Apakah kiranya yang menjadi tujuan didikan dalam Islām itu? Yang dinamakan didikan ialah suatu pimpinan jasmani dan ruhani yang menuju pada kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dengan arti yang sesungguhnya.

Dengan demikian perlu ada keadilan dan adab dalam kurikulum untuk membentuk manusia yang bertakwa. Manusia bertakwa adalah tujuan pendidikan yang diamanahkan UUD 1945 yang kemudian dioperasionalkan dalam Sistem Pendidikan Nasional, dan tujuan ini -yakni manusia bertakwa- tidak bisa diraih jika tidak ada keadilan dalam diri manusia, termasuk di dalam keadilan dalam masalah ilmu, sebagaimana disebutkan dalam al-Qurʾān:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allāh, Sesungguhnya Allāh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: 6:8)

Jadi adalah mustahil mencapai tujuan manusia bertakwa tanpa adanya keadilan dalam masalah ilmu.

Sains dapat menjadi media untuk pembentukan karakter sekurangnya dalam tiga dimensi: Pertama, dimensi filosofis; kedua, dimensi teknis; dan ketiga dimensi aksiologis. Dalam dimensi filosofis, sains digunakan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap keagungan Penciptaan alam semesta yang diharapkan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh berikutnya. Pada dimensi kedua; aspek-aspek metode ilmiah digunakan sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai baik pada anak didik; Sedangkan dalam dimensi ketiga, penanaman pada level aksiologis, yaitu menanamkan kepada anak didik untuk menjadi manusia yang bermanfaat bukan saja bagi ummat Islām namun juga ummat manusia dan ciptaan Allāh yang lain melalui sains.

Dalam dimensi filosofis sains diajarkan untuk tujuan memberikan gambaran akan dahsyatnya ciptaan Allāh yang terbentang di alam semesta termasuk dalam diri manusia itu sendiri, meliputi yang dapat diindera maupun yang tidak. Sains juga digunakan untuk menunjukkan kerumitan sekaligus keteraturan di alam semesta yang menunjukkan wujūdnya Yang Maha Kuasa. Ciptaan Allāh tersebut tidak lain merupakan āyāt atas wujūdnya Allāh sebagaimana kitab suci pun merupakan āyāt Allāh. Kesadaran akan hal-hal ini diharapkan dapat menstimulasi kesadaran akan murāqabatullāh (perasaan diawasi oleh Allāh) dan muqārabatullāh (perasaan dekat dengan Allāh). Kedua sikap ini diharapkan akan menanamkan nilai-nilai seperti: sikap malu (kepada Allāh) dalam berbuat kejahatan, senantiasa bersikap ikhlaṣ, bertanggung jawab (displin), jujur, kemampuan mengendalikan diri, tidak berorientasi pada materi, dll. Dalam dimensi kedua berkaitan dengan sains sebagai perangkat untuk memahami fenomena alam fisik, ia dapat digunakan untuk menumbuhkan nilai: rasa ingin tahu yang tinggi (curiousity), gairah dalam mencari pengetahuan dan kebenaran, sikap tekun dan teliti, sikap taat pada prosedur (disiplin), sikap analitis, bekerjasama dan bersosialisasi, kemampuan menarik kesimpulan, dll. Melalui dimensi ketiga, sains dapat diajarkan dari segi kemanfaatannya bagi kehidupan ummat manusia, dan ketika ia diniatkan untuk menjadi manfaat bagi orang banyak maka kesadaran bahwa aktivitas sains adalah bagian dari ibadah diharapkan akan tumbuh, karenanya nilai yang diharapkan akan tumbuh adalah: kesadaran bahwa mempelajari sains adalah ibadah apabila diniatkan dan dilakukan dengan benar, penanaman etika dalam mengaplikasikan sains berdasarkan asas manfaat dan maṣlaḥat bagi ummat manusia, bertanggung jawab dengan merawat dan memelihara alam, sikap hemat, tidak tabdhīr (menggunakaan sumber dalam hal yang terlarang) dan isrāf (berlebihan), peduli pada masalah sosial kemasyarakatan, ingin senantiasa bermanfaat dengan berkarya, menghindarkan dari unsur penipuan (ghash), melalui keteladan para ilmuwan: niat yang benar, ketekunan, daya tahan, memberi manfaat. Demikian nilai dan sikap yang dapat timbul dari pembelajaran sains berbasis pada Islām. Tentu saja hasil ini akan optimal dengan berbagai faktor, utamanya faktor para pendidik yang berkualitas.

[1] Tulisan ini adalah cuplikan dari buku Menjadi Saintis Muslim.

[2] Pelajar CASIS-UTM dan peneliti PIMPIN Bandung

[3]Online Oxford Dictionaries, (http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/character)

[4] James Arthur, Education with Character The moral economy of schooling (London: RoutledgeFalmer, 2003), hlm. 10

[5]Ibid.

[6]Ibid. hlm. 11-12.

[7]Ibid., hlm. 17-18.

[8] Michael Watz, An Historical Analysis of Character Education (Journal of Inquiry & Action in Education, 4(2), 2011), hlm. 34

[9]Ibid., hlm. 36.

[10] Derek Heater, A History of Education for Citizenship (London: RoutledgeFalmer, 2004), hlm. 74

[11]Ibid., hlm. 35.

[12]Ibid., hlm. 45.

[13]Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008).

[14] Abū Ḥamīd al-Ghazālī, Iḥyāʾ ʿUlumiddīn (Mesir: Dāruʿl-Fikr, tanpa tahun). Juz 3 hlm. 52.

[15] Lihat misalnya karya Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islām: The Concept of Religion and The Foundation of Ethics and Morality dalam Prolegomena to The Metaphysics Of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), hlm. 41.

[16] Misalnya karya ʾadab al-ʿālim wa al-mutaʿālim atau al-Tibyān fī ʾadabi ḥamalāt al-Qurʾān karya Sharifuddīn al-Nawāwī Ash-Shafiʿī atau Imām an-Nawāwī

[17]Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islām dan Sekularisme (Bandung: PIMPIN, 2011), hlm. 196.

[18] Mohammad Natsir, Ideologi Pendidikan Islam dalam Capita Selecta 1 (Jakarta: Yayasan Bulan Bintang Abadi dan Media Dakwah, 2008), hlm. 80 dan 85.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: