//
you're reading...
Human being, Kajian, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Kebangkitan Ummat dan Masalah Pendidikan

March 13th, 2015
Source http://pimpin.or.id/2015/03/13/kebangkitan-ummat-dan-masalah-pendidikan/

Bismillahirrahmanirrahiim…

Islam pernah berjaya menjadi peradaban besar. Andalusia misalnya, merupakan jembatan utama peradaban Islam dan pintu penting dalam transfer peradaban Islam ke Eropa. Hal ini mencakup berbagai bidang: ilmiah, pemikiran, sosial ekonomi dan sebagainya. Andalusia yang menjadi bagian dari Eropa telah menjadi mimbar pencerahan peradaban selama delapan abad (711-1492M) karena keberadaan kaum muslimin di sana[1]. Gustave Le Bon mengatakan:

“Begitu orang-orang Arab berhasil menaklukan Spanyol, mereka mulai menegakkan risalah peradaban di sana. Maka dalam waktu kurang dari satu abad mereka mampu menghidupkan tanah yang mati, membangun kota-kota yang runtuh, mendirikan bangunan-bangunan yang megah dan menjalin hubungan perdagangan yang kuat dengan negara-negara lain. Kemudian mereka memberikan perhatian yang besar untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra, menerjemahkan buku-buku Yunani dan Latin dan mendirikan universitas-universitas yang menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan peradaban di Eropa dalam waktu yang lama”[2].

Namun kejayaan peradaban Islam tersebut saat ini seperti sebuah mimpi di siang bolong, sekedar cerita sejarah belaka, ditengah kondisi ummat yang terpuruk di segala bidang. Di bidang politik, pertahanan dan keamanan, misalnya, Palestina yang merupakan negara dengan sebagian besar penduduk muslim masih tidak beranjak dari penjajahan Israel. Sektor budaya tak luput dari permasalahan, pornografi dan seks bebas, sampai penyalahgunaan obat-obat terlarang yang mencengkram ummat Islam diberbagai negara. Pun demikian dalam bidang ekonomi, kelangkaan bahan bakar, tingginya harga kebutuhan pokok dan lain sebagainya sebagai sebuah ironi di negeri-negeri kaya sumber daya alam, yang diakibatkan kungkungan sistem kapitalisme[3]. Semua persoalan itu pada akhirnya menimbulkan Tanya: “Apa sebetulnya yang salah?” Berbagai symptom (gejala) di atas pada gilirannya memaksa para cendekia untuk menganalisis serta menyimpulkan apa yang terjadi. Isma’il Raji al-Faruqi misalnya, mengidentifikasi bahwa berbagai masalah yang terjadi tidak terlepas dari masalah pokok, yaitu pendidikan. Pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap situasi ini.[4] Prof. Syed Muhammad Naqib al-Attas melihat bahwa pemimpin saat ini hanya berkutat pada kulit luar dibanding mencari akar permasalahan mendasar yang sesungguhnya. Pemimpin yang telah terpengaruh oleh nilai-nilai Barat kemudian berusaha memperbaiki keadaan ummat dengan menerapkan cara-cara yang salah melalui sistem pendidikan yang terbaratkan[5].

Kenapa pendidikan menjadi sektor yang paling disalahkan? Menurut al-Attas, berbagai masalah yang timbul adalah akibat dari tidak dipakainya konsep ta’dib sebagai pendidikan dan proses pendidikan. Konsekuensi dari hal tersebut adalah hilangnya adab (loss of adab)[6]. Ini mengandung pengertian bahwa hilangnya adab disebabkan salahnya konsep pendidikan yang kita anut. Hal ini pada gilirannya akan berimplikasi pada kesalahan dan kebingungan dalam ilmu pengetahuan (error and confusion in knowledge) tentang Islam serta pandangan tentang ‘hakikat’ dan ‘kebenaran’ dalam Islam. Kondisi inilah yang pada akhirnya melahirkan pemimpin-pemimpin palsu di berbagai bidang.

Pendidikan Islam

Al-Attas mengatakan bahwa makna pendidikan dan segala yang terlibat di dalamnya merupakan hal yang sangat penting dalam perumusan sistem pendidikan dan implementasinya. Pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Dalam jawaban ini terdapat beberapa konsep, yaitu : “suatu proses penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap. Konsep lainnya adalah “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan, dan konsep “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu.[7]

Dalam Islam, pendidikan bertujuan menghasilkan individu yang baik dan beradab, bukan semata-mata warga negara yang baik. Adab adalah disiplin tubuh, jiwa dan ruh, disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual dan ruhaniah; pengakuan dan pengenalan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat (maratib) dan derajatnya (darajat)[8].

Dengan kata lain, adab berarti pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwa ilmu dan segala sesuatu terdiri dari hirarki yang sesuai. Jika pengenalan adalah ilmu dan pengakuan adalah amal, maka pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan”[9].

Manusia beradab adalah yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Allah, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya. Jika tujuan pendidikan adalah menghasilkan seorang manusia yang baik, maka pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk masyarakat yang baik. Kenapa demikian, karena masyarakat yang baik akan terbentuk setelah pribadi-pribadi manusia terbentuk dengan baik.[10]

Dalam karyanya yang lain, Prof al-Attas mengatakan bahwa pendidikan harus bertujuan pada pertumbuhan kepribadian manusia yang utuh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek dan rasio, perasaan dan indera-indera badan manusia. Latihan yang diberikan kepada seorang muslim yang harus menjadi keyakinan semacam itu disuntikkan ke seluruh kepribadiannya dan menciptakan dalam dirinya kecintaan emosional kepada Islam dan memungkinkannya mengikuti al-Qur’an dan Sunnah dan diatur oleh sistem nilai Islam secara ikhlas dan gembira sehingga ia dapat menjalankan kesadaran statusnya sebagai khalifah Tuhan, yang kepandanya Tuhan menjanjikan kekuasaan di alam semesta.[11]

Dari tujuan pendidikan secara umum tersebut dapat dirinci sasaran-saasaran pendidikan yang lebih khusus meliputi aspek spiritual (afektif), intelektual (kognitif) dan psikomotor. Aspek spiritual (afektif) meliputi : (1) suatu kesadaran akan keesaan dan kemahakuasaan Tuhan yang universal dalam semua pemikiran dan tindakan, (2) kesadaran terhadap sifat pandangan dunia Islam yang utuh, posisi masing-masing dan kaitan komponen-komponennya satu sama lain[12].

Sasaran aspek intelektual (kognitif) meliputi : (1) memiliki informasi dan memahami tentang semua unsur-unsur penting pandangan alam Islam, rukun iman, ritual-ritual dan petunjuk keagamaan dan riwayat hidup Nabi sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh, (2) memahami aspek-aspek syari’at Islam yang permanen dan relatif-historis, pemahaman dan implementasinya oleh Nabi, para sahabat dan ahli-ahli fiqh kemudian, (3) memperluas pengetahuan dan analisis terhadap aliran-aliran ritualistic fiqh, ekonomi, sosial politik dan militer, (4) menerapkan gagasan-gagasan dan idea-idea Islam ke dalam kondisi historis baik dalam bidang perorangan maupun kolektif.[13]

Sedangkan sasaran bidang psikomotor meliputi : (1) formulasi verbal dan tujuan psikologis semua perbuatan yang difokuskan untuk dipersembahkan kepada Tuhan, (2) kemampuan membaca dan memahami bagian-bagian penting al-Qur’an yang diperlukan dalam menjalankan kewajiban ritual seperti shalat, (3) kemampuan fisik untuk melaksanakan semua tugas yang diwajibkan atas individu dan kolektif, dan (4) praktek idea-idea intelektual, sosial, ekonomi dan politik dengan simulasi, peran dan keterlibatan langsung.[14]

Kurikulum pendidikan

Dari sasaran pendidikan Islam tersebut dapat disusun kurikulum yang selaras. Kandungan kurikulum pendidikan Islam secara esensial tidaklah terbatas, ia dapat disusun bukan hanya untuk merespon perkembangan-perkembangan historis yang berbeda-beda, tetapi juga untuk menaunginya. Belajar bahasa Arab, bagi al-Qur’an dan Hadith adalah suatu keharusan karena Bahasa Arab dapat mengantarkan kepada keduanya, yang masing-masing merupakan ajaran Tuhan dan Nabi-Nya. Tetapi di sisi lain, ilmu-ilmu kedokteran, ekonomi, politik juga penting untuk dipelajari.[15] Bahkan Ibn Hazm pernah mengatakan bahwa, astrologipun yang tidak dikategorikan ke dalam ilmu, harus dipelajari agar kita mengetahui dimana letak kesalahannya.

Struktur kurikulum dalam pendidikan Islam dapat dibagi kedalam empat kategori berikut : pertama ilmu-ilmu fardhu ‘ayn yang termasuk dalam ilmu prasyarat, yang kedua ilmu-ilmu fardhu kifayah yang bertujuan memenuhi kepentingan umum sesuai perkembangan zaman dan lingkungan. Ketiga, ilmu-ilmu kemahiran (skill) dan kecakapan yang akan membantu si murid untuk memainkan peranannya di masyarakat, dan yang keempat adalah ilmu-ilmu spesialisasi (pengkhususan).[16]

Kategorisasi ke dalam fardhu ‘ayn dan fardhu kifayah masing-masng merupakan bagian wajib dan pilihan atau spesialisasi kurikulum dengan keseimbangan yang wajar antara intelektual, moral-spiritual, dan fisik. Gagasan kandungan fardu ‘ayn tidak harus dibatasi dengan ajaran-ajaran rukun iman dan Islam, tetapi harus sesuai dengan kemampuan kognitif seseorang, tanggung jawab sosial, posisi politik dan kapasitas ekonomi dengan baik. Dengan kata lain, ilmu fardhu ‘ayn yang diwajibkan atas tiap individu berbeda-beda kedalamannya sesuai kemampuan akliah, ruhaniah dan kedudukan sosial seseorang.[17]Apa yang diwajibkan kepada anak-anak, tentunya akan berbeda dengan apa yang diwajibkan terhadap orang dewasa. Pelajaran yang termasuk dalam kategori fardhu ‘ayn seperti bahasa Arab, al-Qur’an, hadith, khasanah ilmiah Islam dan lain-lain, yang kesemuanya itu merupakan prasyarat dalam pendidikan Islam.

Sedangkan, ilmu-ilmu fardhu kifayah terkait erat dengan kegunaanya untuk kepentingan masyarakat secara umum. Al-Attas mensyaratkan bahwa fardhu kifayah harus senantiasa merefleksikan tujuan akhir manusia untuk mencapai kesejahteraan yang hakiki, yaitu pembebasan dan penyucian dirinya dari belenggu kedzaliman, kebebasan dari belenggu nafsu hayawaniah.[18] Menurut al-Ghazali ada tiga prinsip yang merupakan panduan dalam mencari ilmu fardhu kifayah ini, meliputi (1) keutamaan mencari ilmu dititikberatkan kepada ilmu fardhu ‘ayn, (2) mencari ilmu fardhu kifayah harus dilakukan secara bertahap, dan (3) karena kewajiban fardhu kifayah akan gugur, bila sejumlah orang telah menanggung kewajiban tersebut, maka seorang muslim harus menghindari diri dari mempelajari ilmu fardhu kifayah yang telah dipelajari banyak orang.[19]

Saat ini misalnya, pada pendidikan tingkat menengah, hanya pelajaran-pelajaran ritual seperti shalat, zakat, haji dan beberapa dasar Islam yang diajarkan, itu pun tidak diintegrasikan dengan pengetahuan dasar Islam yang lebih luas dan universal. Bukannya tidak penting, tetapi tidak semua orang dapat melaksanakan kewajiban dimaksud, pada usia tersebut. Sebaiknya, mereka diajari falsafah yang ada dibalik kewajiban-kewajiban keagamaan dan kaitannya dengan pandangan dunia Islam yang lebih luas.[20]

Kajian perbandingan agama juga harus dimasukkan ke dalam pengajaran agama Islam ditingkat sekolah menengah. Hal ini dimaksudkan untuk mengungkapkan persamaan dan perbedaan Islam dengan agama-agama lain sehingga meningkatkan pemahaman dan kerjasama. Pembahasan perbandingan agama ini berimplikasi kepada perkembangan suatu masyarakat untuk menjadi lebih harmonis sebagaimana juga memelihara pemuda Muslim agar tidak mudah terpengaruh dan mudah diserang pengaruh-pengaruh agama lain.[21]

Khatimah

Masalah mendasar yang dihadapi ummat Islam saat ini adalah loss of adab. Hal ini terkait konsep pendidikan yang didalamnya memuat konsep ilmu yang tidak tepat. Kurikulum sebagai pengejawantahan dari konsep ilmu sudah seharusnya disusun secara benar. Akhirnya, kita berharap semoga dengan penerapan konsep pendidikan yang tepat, akan mengurai benang kusut permasalahan ummat. Semoga… (Eti Kusmiati/PIMPIN)

—Wallahu’alam—

[1] Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012), hlm. 770.

[2] Ibid., hlm 770-771

[3] M. Umer Chapra, Islam and The Economic Challenge, The Islamic foundation and The International Institute of Islamic Thought, Leicester, 1992, p. 6.

[4]Isma’il Raji al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2003), hlm. 11.

[5] Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Malaysia: ISTAC, 2001). Baca juga Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 2003), hlm, 113

[6]Al-Attas, Konsep pendidikan dalamm Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 1990), hlm, 75.

[7]Al-Attas, Konsep, hlm 35.

[8] Al-Attas, Konsep, hlm 53.

[9] Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur : ISTAC, 2001).

[10] Al-Attas, Konsep, hlm 59.

[11] Al-Attas, ed., Aims and Objectives of Islamic Education, hlm 158. Dalam Konsep Pengetahuan dalam Islam (Wan Mohd. Nor Wan Daud)

[12] Wan Mohd. Nor Wan Daud, Konsep Pengetahuan dalam Islam, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1997), hlm 103.

[13] Wan Daud, Konsep, hlm 104

[14] Ibid.

[15] Ibid., hlm 109

[16] Baca Adab peradaban dalam judul Perjalanan Mencari Ma’na dalam Pendidikan : Pengalaman Murid ISTAC 1994-1997, (Kuala Lumpur : MPH Group Printing, 2012), hlm 80. Baca juga Wan Mohd. Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, (Kuala Lumpur : Dewan Pustaka dan Bahasa, 1991), hlm 38-39.

[17]Mohammad Hannan Hassan, Adab peradaban dalam judul Perjalanan Mencari Ma’na dalam Pendidikan : Pengalaman Murid ISTAC 1994-1997, (Kuala Lumpur : MPH Group Printing, 2012), hlm 80.

[18] Al-Attas, Risalah untuk kaum muslimin, (Kuala Lumpur : ISTAC, 2001), hlm 19.

[19] Mohammad , Adab, hlm, 80.

[20] Wan Daud, Konsep, hlm 110.

[21] Wan Daud, Konsep, hlm 111.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

One thought on “Kebangkitan Ummat dan Masalah Pendidikan

  1. Reblogged this on cptwydt.

    Posted by ciptiawijaya | April 2, 2015, 4:05 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: