//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan

Renungan Pendidikan #29

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Masa lalu pendidikan para orangtua jelas tidak dipungkiri banyak berpengaruh pada cara berfikir, cara merasa dan cara bertindak serta cara bersikap dalam mendidik anak anaknya. Ada siklus kebaikan dan ada siklus kezhaliman dalam mendidik anak yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Dalam sebuah keluarga besar bangsawan, dijumpai bahwa generasi sang cucu sering mensetrap (menghukum) adiknya yang lebih kecil hanya karena tidak patuh pada kakaknya.

Sang kakak kadang menghukumnya dengan mengikat adiknya di tiang jemuran seharian atau memasukkan ke kamar mandi berjam-jam atau memukul sang adik. Dalam keluarga mereka, begitulah disiplin dan ketaatan ditegakkan.

Usut punya usut ternyata ayahnya dulu diperlakukan demikian oleh ayahnya lagi atau kakeknya. Usut punya usut, termyata dulu kakeknya juga diperlakukan demikian oleh gurunya di sekolah kolonial Belanda.

Kembali kepada cerita adiknya sang cucu, karena tidak memiliki lagi sasaran vertikal ke bawah maka dia sering mengikat kucing atau hewan peliharaan di tiang jemuran atau dimasukkan ke kamar mandi atau dipukul jika tidak patuh.

Jelas hewan peliharaan tidak punya sasaran lagi vertikal ke bawah, mereka stres. Dan setiap kali stres hewan tersebut akan membuat kekacauan di rumah. Dan setiap kali sang ayah melihat kekacauan di rumah, maka menjadi alasan sang ayah untuk mengikat anaknya di tiang jemuran. Inilah siklus kezhaliman.

Kembali kepada kakeknya, ternyata ayah sang kakek atau buyutnya mendidiknya dengan cara yang jauh berbeda. Sang buyut hanya mementingkan akhlak dan kemandirian hidup. Persekolahan kolonialah yang telah mencerabut sang kakek dari pendidikan sejati di keluarganya, ketika masih anak anak.

Tanpa terasa sudah tiga generasi yang tercekoki oleh sebuah model pendidikan yang sama, lahirlah generasi dengan cara pandang yang sama, cara berfikir dan cara merasa serta bersikap yang sama dan pastinya hukuman yang sama. Apakah akan dilanjutkan?

Berapa banyak orangtua, guru, pendidik yang tidak mau merubah mindset nya tentang pendidikan yang sejati. Mereka susah “move on” , susah hijrah baik hijrah pemikiran, hijrah mentalitas, hijrah pensikapan dan hijrah tindakan.

Berapa banyak keluarga yang mendidik anak anaknya sesuai profesi kakeknya atau bapaknya. Keluarga militer cenderung mendidik anak2nya dengan gaya disiplin militer, maka anak anaknya pun bergaya militer. Begitupula keluarga dokter, keluarga guru bahkan keluarga pedagang.

Ini obsesi namanya, padahal mendidik adalah menumbuhkan fitrah bukan mematikannya dan bukan pula mencetak seperti profesi buyut keluarganya.

Para orangtua, heran dan mengeluhkan perilaku anak anaknya bahkan pemimpinnya, mereka mengeluhkan hasil pendidikannya itu yang nir-akhlak dan nir-peran atas bakat, tetapi terus mengulangi sistemnya, tanpa mau mengembalikan kepada kesejatian pendidikannya.

Maka jika ingin peradaban dan destiny negeri ini membaik, maka lahirkan generasi peradaban terbaik dengan pendidikan sejati, segera beristighfarlah, berlepas dirilah, putuslah rantai siklus kezhaliman ini.

Kembalikan semua kepada kesejatian misi dan perannya.

Kembalikan cara berfikir kita bahwa kemuliaan dan kehebatan anak anak kita bukanlah dengan menguasai dan berkuasa atas segalanya, tetapi adalah apabila fitrah2 anak2 kita berhasil ditumbuhkan dengan paripurna, sehingga menebar rahmat dan manfaat dengan semulia mulia akhlak.

Kembalikan cara merasa kita bahwa kemuliaan dan kehebatan anak anak kita, bukanlah merasa paling hebat segalanya, namun adalah apabila mereka dididk dengan ketulusan dan kecintaan yang penuh sehingga bangkit kesadaran pada fitrah iman, fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah perkembangannya menuju peran peradabannya.

Kembalikan cara bertindak kita bahwa kemuliaan dan kehebatan anak anak kita bukanlah dengan menjejalkan sebanyak banyak keterampilan dan pengetahuan lalu sekeras kerasnya melecut dalam persaingan, namun adalah dengan menemani dan memberi ruang kesempatan yang luas dan nyaman bagi anak anak kita sehingga membangkitkan dan menumbuhkan potensi fitrah2 baiknya,

agar potensi fitrah keimanan mereka bertemu dengan sistem kehidupan dan kearifan sehingga mewujud menjadi akhlak mulia,

agar potensi fitrah bakat mereka bertemu dengan potensi fitrah kehidupan dan zaman sehingga mewujud menjadi peran spesifik khalifah di muka bumi,

agar potensi fitrah belajar mereka bertemu dengan potensi fitrah alam sehingga mewujud menjadi karya inovatif yang membumi.

Mohonkanlah kepada Zat Yang Maha Rahman, agar kita mampu mewujudkannya bersama keluarga dan komunitas secara berjamaah.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi
#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: