//
you're reading...
Ekonomi, Kajian, Review

Kembali ke Grand Strategy Pertumbuhan Ekonomi, Menjaga “Uncertainty” Not Undermines Investment ? — Food for thought

Jusman Syafii Djamal

March 16, 2015

Alhamdulillah paket kebijakan Pemerintah untuk mencegah pemerosotan lebih tajam nilai tukar telah diterbitkan. Paling tidak ada tanda munculnya momentum baru agar kehidupan ekonomi bergairah kembali. Mudah mudahan paket ini diikuti oleh langkah Bank Indonesia untuk lebih proaktip dipasar uang, agar terjadi keseimbangan antara tekanan kemerosotan dan energi untuk bangkit dari tekanan.

Sebab jika tidak ada impuls kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan seiring, ekonomi Indonesia akan terus dibayangi penantian tak kunjung henti. Semua seolah “Waiting for Godot” bilamana dan kapan the Fed akan mengeluarkan kebijakan suku bunganya. Bulan Aprilkah, Mei ? Berapa besar dan apa dampaknya ?

Kebetulan saya baru selesai baca ulang kembali buku menarik berjudul : “The Map and The Territory” , Risk Human Nature and the Future of Forecasting, karya Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika yang sudah pensiun.Saya share disini agar muncul diskusi, siapa tau pemahaman saya keliru. Greenspan menulis buku sebagai buah hasil renungan tentang masa lalu sebagai seorang ahli ekonomi yang mumpuni di Amerika dan pengalamannya menjadi Gubernur Bank Sentral the FED. Dalam buku itu ia seolah olah merekomendasikan untuk tiap pemimpin “jangan lupakan pengalaman buruk krisis dimasa lalu, untuk tak terperosok pada jurang krisis yang sama”. Learn from the past to shape a better future. Pengalaman krisis pahit masa lalu adalah obor petunjuk untuk memperbaiki masa depan.

Greenspan menulis karena sebagai seorang ekonom ia amat menyenangi matematika. Ia selalu bilang :”a key point in the history of our effort to see the future has been the development over the past eight decades of the discipline of model based economic forecasting”. Dan karenanya ia menjadi Gubernur Bank Sentral Amerika the Feds yang sudah diklasifikasikan sebagai Empu. Jika ia bicara dan beri statement seluruh pelaku bisnis duduk didepan tv masing masing menyimak “word by word” apa yang ia katakan.

Ia sangat percaya pada angka dan forecasting, dan selalu beorientasi untuk ambil kebijakan moneter Bank Sentral melalui upaya pegembangan pendekatan econometric dan forecasting method. Ia kaget ketika tahun 2008 ia lihat Ben Bernanke penggantinya dan sebagai seorang akademisi ahli moneter yang telah membuat thesis doctoralnya berjudul Long Term Commitment,Dynamic Optimization and the Business Cycle, dibawah bimbingan Stanley Fischer. Ia dikenal sangat hati hati dan sabar, mau mendengar pendapat orang lain, yidak ngototan dan pembangun konsesnsus yang andal. Ia menguasai seluk beluk tentang Depression 1929,. Karenanya Greenspan terpana ketika semua orang mengamati bagaimana duet ganda terkuat Ben Bernanke Gubernur Bank Sentral Amerika dan Hank Paulson Menteri Keuangan Amerika, terjebak dan berhadapan dengan krisis finansial yang secara tiba tiba muncul kepermukaan tanpa diketahui. Greenspan dan semua orang terkaget kaget, dan Greenspan terus bertanya kenapa Bernanke yang selalu waspada pada angka dan percaya pada model matematika serta kecanggihan proses pengumpulan informasi yang ada di Bank Sentral, ternyata bisa kehilangan ilmu Weruh sadurunge winarah, ketika tanda krisis luput dari radar prediksi. Sama kagetnya ketika semua ekonom dan para tehnokrat Indonesia terseret arus krisis ekonomi tahun 1998. Krisis yang tak dapat diprediksi melalui metode forecasting yang paling canggih sekalipun.

Krisis yang kemudian membawa Greenspan mengajukan pernyataan yang menarik :”we know that we have a limited capability to see much beyond our horizon”. Kata Greenspan dalam retsropeksinya :”As always though we wish it otherwise, economic forecasting is a dsicpline of probabilities. The degree of certainty with which the so called hard sciences are able to identify the metrics of the physical world appears to be out of the reach of the economic disciplines.

Meski kita selalu berharap sebaliknya, forecasting economics pada akhirnya adalah suatu disiplin ilmu ekonomi yang bertumpu pada teorema probability , ilmu tentang pelbagai jenis kemungkinan. Derajat kepastian yang diperoleh dalam memanfaatkan kecanggihan matematika (hard sciences) untuk mengidentifikasikan dan menyederhanakan masalah serta memodelkan realitas pertumbuhan ekonomi ternyata tidak seakurat ketika diterapkan pada persoalan fisika atau gerak benda mati lainnya dalam kehidupan se hari hari.

Dari pelbagai krisis ekonomi yang pernah dialami, Greenspan sampai pada suatu pemahaman bahwa kemampuan penerawangan model matematika yang dikembangkan pada postur masa depan ekonomi suatu Bangsa masih kurang lengkap. terbatas. Kecerdikan kita untuk meramalkan apa yang bakal terjadi diesok hari sangat tergantung pada hosion dan cakrawala berfikir kita”. Ada banya interest yang menyebabkan kita sering terbutakan pada fakta fakta yang mungkin keluar dari jalur regresi lurus dari semua prediksi yang kita lakukan. dan ternyata fakta fakta diluar jalur itu merupakan petanda tentang lahirnya jaman baru yang sama sekali tak pernah kita duga.

Dulu dijaman Yunani, Raja atau Kaisar percara pada Delphi seorang ahli nujum yang dengan bola kristal ditangannya dapat membimbing dan menjadi partner dialog untuk ambil kebijakan yang tepat dan terarah. Kini Delphi diganti oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkan banyak metode dan rumusan matematika untuk memprediksi masa depan berdasarkan statistik masa lalu.

Menurut Greenpan, bahkan John Maynard Keynespun di tahun 1936 ketika menulis buku berjudul :”General Theory of Employment , Interest and money” telah melahirkan formula matematika yang dapat digunakan sebagai “framework” dalam membangun model econometrik dari kebijakan makroekonomi masa kini dan masa depan. Akan tetapi kenapa kita masih saja terkejut ketika krisis ekonomi muncul dan menghalangi jalan kemajuan ??

What Went Wrong ? Tanya Greenspan pada dirinya sendiri, yang ia catat dalam buku itu. Ia terus bertanya :”Why was virtually every economist and policy maker of note so off about so large an issue ?

Apa yang luput dari pandangan, mengapa selalu muncul krisis dan mengapa kita sering terperangkap dalam krisis yang sama, padahal semua text book dan catatan semua ahli ekonomi selalu bercerita tentang bahaya depresi tahun 1929, resesi dan stagnasi yang datang silih berganti. Dan toh tahun 2008 Amerika jatuh kelubang krisis finansial tanpa ada yang tau sebelumnya. Mengapa Keahlian Weruh sadurunge winarah yang dimiliki orang sekelas Ben Bernanke, ternyata tak mampu memprediksi munculnya krisis subprime morgate 2008 ? Selalu saja ada sikap abai dan menganggap remeh tanda tanda datangnya krisis, dari mereka yang ahli sekalipun.

Greenspan kemudian mememberi “hint” atau rekomendasi kemana para ekonom harus melangkah agar lubang krisis yang sama dapat dihindari dimasa depan. Forecasting dan econometric harus dilengkapi dengan model tingkah laku pelaku ekonomi. Yang oiia sebut pelaku ekonomi adalah baik pengusaha, pedagang, tehnokrat maupun pengabil keputusan. Ia bilang semua pelaku ekonomi harus selalu waspada akan peringatan Keynes tentang “phenomena animal spirit” dari pelaku ekonomi. Harus ada rumus yang mampu menjabarkan pemahaman kita tentang terminologi “animal spirit” , suatu terminologi yang dari sejak awal disebut oleh John Maynard Keynes dalam makalahnya di tahun 1936. Terminologi yang sering dilupakan banyak pelaku ekonomi. Dan terminologi itu kini jadi fokus pembahasan dalam “behavioral economics” yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman.

Masalahnya kata Greenspan, bukan semata mata pada ketidak pahaman para pengambil keputusan akan tingkah laku pasar yang cenderung tidak mampu diduga. Bukan semata mata karena pengambil keputusan tidak paham bahwa tiap pelaku memiliki kecendrungan untuk mengambil keputusan tidak rasional karena didorong oleh kepentingannya sendiri sendiri. Melainkan , justru kekeliruan dan kesalahan interpretasi data pengamatan hasil model matematika lahir karena pengambil keputusan juga tidak punya jarak pada masalah. Mereka secara emosional terlibat dan merasa paling benar sendiri dan seolah hanya mereka yang memiliki indera keenam untuk ambil jalan sejarah masa depan. Mereka kadangkala tergoda pada bisikan emosi untuk ambil jalan lain dibanding percaya pada angka dan prediksi pilihan terbaik solusi yang disajikan model matematika yang telah dikembangkan oleh staffnya.

Membaca catatan Greenpan seperti diungkapkan dalam buku itu, timbul pertanyaan apakah ketika kita ingin mewujutkan Visi Besar Indonesia 2020, 2025,2030 dan Indonesia 2045, kata dan istilah “Grand Strategy” masih punya makna ? Bukankan kata Grand Strategy mengandung arti upaya sistimatis terencana dan terukur yang dilakukan setahap demi setahap untuk mencapai suatu posisi strategis tertentu yang diinginkan. Padahal setiap kali kita meuju puncak pertumbuhan, krisis bisa muncul tanpa diundang.

Dalam ilmu matematika dikenal istilah integral dan differential. Persamaan differensial seperti kata Alan woods dalam bukunya Reason in Revolt selalu dikembangkan dengan suatu asumsi bahwa “realitas kehidupan pada dasarnya merupakan rangkaian peristiwa yang berjalan sambung menyambung tanpa jeda dan tanpa kejutan”. Kehidupan berjalan mengikuti kurva yang mulus dan teratur yang dapat diterjemahkan kedalam bentuk persamaan matematika yang teratur dan indah. Karenanya perubahan yang terjadi dalam domain ruang dan waktu terjadi secara teratur, sistimatis dan mulus tanpa kendala.

Tidak ada teritori wilayah kerja suatu fungsi yang tidak teratur , acak dan penuh kejutan yang bisa melahirkan patahan atau lonjakan mendadak. Tak ada diskontinuitas. Asumsi inilah yang menyebabkan persamaan integral dan diferential hingga kini menjadi bahan mata kuliah di Perguruan Tinggi dan digunakan sebagai dasar membuat prediksi tentang fenomena alam.

Akan tetapi dalam realitas ternyata perjalanan tidak selamanya mulus. Ambil contoh krisis ekonomi tahun 1998 yang melahirkan krisis ekonomi yang dampaknya di Indonesia baru setelah empat belas tahun dapat direcovery kembali. Begitu juga peristiwa tahun 2008 yang melahirkan krisis finansial di Amerika yang sebelumnya tak pernah diduga dan melahirkan kebangkrutan Lehman Brothers.

Semua lahir dari suatu schock atau kejutan. Tak dapat diramalkan dan diprediksi dengan tepat kapan tepatnya kejutan akan terjadi, kapan ada shock dalam pertumbuhan ekonomi yang melahirkan diskontinuitas yang disebut krisis. Semua samar samar. Persis ketika kita sedang mengenderai mobil dijalan tol tiba tiba hujan deras, wiper tak mampu membuka ruang pengamatan. Kita terus berlari meski jalan tampak samar samar. Dan tiba tiba Brak, sapi liwat dijalan tol. Kita terkejut dan schock kenapa ada sapi dijalan tol, ditengah hujan. Sapi juga kaget kenapa ditengah hujan ada mobil kencang terus tanpa berhenti.

Apakah Grand strategy kehilangan makna ???

Seorang ahli matematika yang juga periset di IBM Benoit Mandelbrot dalam bukunya The Fractal Geometry untungnya mampu membangkitkan optimisme kita tentang perlunya kita membuat Grand Strategy. Asal saja kita mampu meningkatkan tingkat kecerdasan dalam membuat prediksi.

Dalam buku itu Mandelbrot menemukan apa yang ia sebut sebagai “Himpunan Mandelbrot”. Melalui metode grafis dan diagram yang ia terjemahkan dalam metode simulasi komputer ia menemukan fakta bahwa ternyata didalam situasi chaos yang penuh dengan ketidak beraturan ternyata masih bisa ditemukan potongan kberaturan. Dalam situasi chaotik ternyata ada wilayah terbatas yang tidak terpengaruh oleh uncertainty, ketidak pastian dan ketidak beraturan. Selalu ada oase ditengah padang pasir. Kata Fungsi Mandelbrot dalam situasi betapapun sukarnya selalu dapat ditemukan “fractal” atau wilayah keberaturan yang memiliki pola dan gambar geomteri yang sama dan sebangun dan dapat digunakan sebagai jejak jejak jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Dengan kata lain metode Mandelbrot ini melahirkan optimisme untuk tetap melakukan langkah sistiamtis dan terencana dalam membangun postur kekuatan suatu Bangsa melalui pengembangan Visi, Misi, serta perumusan Grand Strategy berupa Garis Garis Besar Haluan ( Kata Garis Garis Besar merujuk pada istilah militer yang disebut dengan ruang maneuver, meneuvering envelope dalam perancangan pesawat terbang dimana batas batas kekuatan struktu ditetapkan, kata garis menunjuk batas gerak maju atau batas gerak mundur, sehingga jika meliwati suatu garis ada langkah koreksi) dan Rencana Jangka Pendek, Menengah dan Panjang untuk menentukan postur anggaran belanja negara dan fokus program.

Sun Tzu dalam buku the art of war atau Jomini atau Claustwitz dalam buku dengan judul yang sama yakni Seni Perang memperlihatkan apa yang mereka sebut sebagai “Fog of War”, Kabut yang menyelimuti pandangan dan persfektip strategis dari seorang Jenderal. Setiap perang melahirkan “fog of war” atau kebingungan dan ketidakpastian tentang posisi kalah dan menang, tentang adanya kejutan terhadap kekuatan lawan yang tadinya diperkirakan lemah, tentang perubahan medan tempur karena perubahan cuaca dan lain sebagainya.

Tiap perang yang didahului oleh upaya membuat Grand Strategy selalu berbenturan dengan “animosity” sebuah kekacauan karena apa yang diperkirakan tidak sepenuhnya benar dalam kenyataan. Selalu lahir kejutan. Dan perang pada dasarnya adalah “deception”, hanya dimenangkan melalui tipu daya yang penuh dengan kejutan tak terduga. Meski demikian tetap saja para Jendral di West Point, Sesko dan segala jenis proses pendidikannya selalu diberi kurikulum Strategi untuk percaya pada pembuatan dan pengembangan postur kekuatan berdasarkan prediksi atau kekuatan musuh musuhnya. Semua pemimpin memerlukan Grand Strategy,

Pada dasarnya Grand Strategy dilandasi oleh intuisi seorang pemimpin untuk melahirkan apa yang disebutnya sebagai gambaran atau vision mereka tentang kata kata “Shih” atau posisi terbaik dimana potensi kekuatan suatu Bangsa memiliki “competitive advantage” atau kekuatan pemukul dan penggerak kemajuan suatu Bangsa.

Dalam hal itu Visi, Misi dan Grand Strategy karenanya masih memiliki makna untuk dilahirkan oleh semua calon Pemimpin Bangsa. Melalui kata Shih Sun TZu ingin menggambarkan posisi terbaik. Ia mendeskripsikan kata kata itu melalui pelbagai skenario “terrain” atau lembah, ngarai dan gunung tempat dimana posisi musuh amat kuat, sedang dan lemah, dan dimana tentara yang dimiliki ememiliki keunggulan.

Dengan kata lain melalui “vision” atau persfektip seorang pemimpin tentang kata “shih” posisi terbaik atau terunggul, dapat dikembangkan suatu Grand Strategy tentang postur kekuatan industri seperti apa yang harus dikembangkan, persiapan Manusia Bersumber daya iptek seperti bagaimana yang harus dikembangkan dan daya kompetisi seperti apa yang hendak dibangun.

Grand Strategy yang menyatakan arah kemana kita akan melangkah untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi secara bertahap dalam dua, lima tahun kedepan, kini sangat terasa perlu dihadirkan kembali ketika nilai rupiah gonjang ganjing meliwati batas asumsi APBN. Paling tidak jika orang ingin bergendang dan berdendang, memiliki partitur yang menuju dalam pengaturan nada pada satu orchestra yang sama. Jangan sampai conductor ingin Beethoven 9, pemain violin, bass dan pelatan lain mainkan Mozart symphony 41. Kita ingin lagu melayu Tanjung katung air nya biru, yang lain menyanyikan ayam den lapeh atau tari serampang dua belas. Yang satu stairway to heavennya Led Zeppelin, yang lain when blindman crynya Deep Purple.

Seperti kata Bung Ary Syahriar teman saya di Fb, Semua urusan pada akhirnya kembali ke Allah semata, Walahualam Bissawab

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: