//
you're reading...
Uncategorized

Dan Pendidikan itu akhirnya membuat anak anak kita menjadi “Bukan Siapa Siapa”

Adriano Rusfi

Di group ini – Millenial Learning Center – tahun lalu saya pernah memposting tulisan “Pendidikan Yang Merusak Karakter Belajar Anak Bangka”. Saat itu saya menyampaikan cemas : Jika pendidikan masih saja melakukan masalisasi dan standarisasi pembelajaran, maka kita hanya akan merusak karakter anak-anak kita !!!

Dan sungguh celaka, ketakutan ini malah mulai terbukti. Saat pekan lalu saya ke Bangka dan Bengkulu, saya mulai menyaksikan “manusia-manusia rata-rata”. Ya, segalanya ada persis di tengah-tengah kurva normal : Tidak ke kiri, tidak ke kanan. Apakah mereka ekstravert atau introvert ? Jawabannya : tengah-tengah. Apakah mereka analitis atau kreatif ? Jawabannya : tengah-tengah ! Apakah mereka peminat ilmu alam atau sosial ? Jawabannya : tengah-tengah !! Dan apakah mereka intelektual atau seniman ? Maka, jawabannya adalah : TENGAH-TENGAH !!!

Lalu, sebagai seorang konsultan pendidikan, kalau begini gambarannya apa yang akan saya ceritakan dan sarankan ??? Jika mereka adalah kuda, saya akan sarankan mereka untuk diajar berlari… Jika mereka adalah lumba-lumba, saya akan sarankan mereka untuk diasuh berenang… Jika mereka adalah Rajawali, saya akan rekomendasikan mereka untuk dididik terbang…. Jika mereka adalah tupai, saya akan minta mereka dikembangkan untuk melompat… Tapi tidak, pendidikan membuat mereka menjadi bukan tupai, bukan kuda, bukan lumba-lumba dan bukan rajawali. Sekali lagi : mereka adalah TENGAH-TENGAH !!!

Inilah gilanya ketika pendidikan dijadikan sebuah industri massal berskala nasional, bahkan bertaraf internasional. LaLu anak-anak kita terbentuk menjadi PRODUK PABRIKAN BERSTANDARDISASI NASIONAL. Ya, karena mereka sedang dipersiapkan untuk lolos Ujian Nasional yang berlaku sama sejak Sabang hingga Merauke. Mereka akhirnya akan menjadi anak-anak yang jika disuruh menggambar, lalu akan membuat gambar yang sama : Dua gunung… matahari menyembul ditengah keduanya… ada awan dan dua ekor burung di kiri atasnya…. jalan desa mengular mulai dari tengah ufuknya… dan petak-petak sawah di kiri-kanan jalannya…

Tidakkah pengambil kebijakan pendidikan negeri ini sadar bahwa pendidikan yang cocok untuk orang Surabaya belum tentu cocok untuk anak-anak Bengkulu ? Ya, saya baru saja menyaksikan anak-anak Bengkulu yang telah hilang Kebengkuluannya. Mereka tak lagi menjadi Bengkulu, tapi juga tak menjadi Jawa. Mereka agak kejakarta-jakartaan, tapi tak menjadi Jakarta. Ke kiri tidak, tapi ke kanan juga entah. Pantaslah jika saat ini Propinsi Bengkulu tetap menjadi salah satu propinsi tertinggal di Indonesia. Sehingga seorang warga Bengkulu berseloroh kepada saya : “Jika abang ingin bernostalgia ke masa lalu, ke Bengkulu lah. Suasananya masih seperti tahun 70’an”.

Sungguh, Allah menciptakan anak-anak Bangka dan Bengkulu dengan karakter yang cocok untuk menyelesaikan masalah negerinya. Karena obat memang Allah sediakan di tempat penyakit itu muncul. Tapi jika karakter ini dibancikan, maka mereka tak akan lagi menjadi solusi negeri. Ketika mereka di-IPA-kan, padahal negeri mereka sarat dengan problem IPS, maka mereka hanya akan menjadi anak-anak yang tersesat di rumahnya sendiri.

Wahai Pak Menteri, jika kurikulum 2013 yang anda wariskan sungguh berwarna pendidikan karakter, maka karakter itu senantiasa khas. Maka, apakah kurikulum anda mampu mengembalikan anak-anak bangsa ini kembali kepada fithrahnya ? Selamat I’edul Fithri, pak…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: